Jumat, 01 Januari 2016
lubang hitam
kebanyakan orang takut dengan lubang hitam karena disana gelap. tak terlihat setitikpun cahaya. bahkan walau hanya samar-samar. takut dengan gelap adalah hal yang wajar. itu manusiawi. walaupun kau selalu berkata bahwa kau takut dengan kegelapan, tapi langkah kakimu selalu ke arahnya. kau selalu penasaran dengannya. mencerocos tentangnya. seolah kau telah ditakdirkan untuk melaluinya. ada apa dibalik lubang hitam? aku yakin suatu saat nanti kau akan temukan jawabannya.
Selasa, 28 Juli 2015
Andai kita satu SMA
“haahhh kutu kupret!!” indy mengumbar kata-kata favoritnya,
super kasar sekasar wajahnya yang penuh jerawat. Dengan muka bersungut-sungut
dia berjalan penuh emosi disepanjang lorong kelas satu, apapun yang ada
didepannya pasti dia tendang.
“udah dong ndy itu kan masalah kecil, lu jangan kebawa emosi
gitu. Ntar kalo lu gak mood bisa berabe babe gue” novan mengelus indy dengan
gaya bijak mahatma gandhi, maklum minggu lalu dia baru pentas teater yang berperan
sebagai kacungnya mahatma gandi.
Indy melirik tajam. “masalah kecil gimana? Yang bener aja!
Lu kan tadi liat sendiri pas si kuntilanak-santi- ngemanfaatin kesempatan dalam
kesempitan nendang pantat gue ampe gue hampir aja nubruk randy“ muka indi
menampakkan semburat merah ketka dia menyebut nama randy.
“itu mah gampang penyelesaiannya” kataku sok tau.
“gimana?”
“lu ambil tank topnya waktu olahraga, lu kasih ke indra
-cowok yang masuk nominasi cowok paling jelek dan gak tau diri-, biar dipelet
sama dia, dijamin dia gak bakalan ganggu lu lagi“ jawabku datar.
“huahahaa betul juga lu!” indi tertawa puas. Entah apa yang
membuatnya puas, aku sendiri gak tau kenapa juga ngasih ide kaya gitu. Lalu dia
menatap novan. “trus apa tadi kata lu? Apa hubungannya gue gak mood ama babe
lu?” Sebuah pertanyaan yang mewakili penasaran segenap para pembaca.
Novan tepuk jidat. “lu pikir dah, kalo lu bete, apa
obatnya?” tanya novan mengulum senyum.
Aku mau ikutan nebak, tapi novan mengerdikkan alisnya. Lu gak
usah ikut-ikutan jawab kampret!
“apa? emang apa?” indy terpancing penasaran.
“masak lu gak paham ama diri lu sendiri?” sindir novan.
“apa si?” kening indy berkerut, tanda ia sedang memaksakan
otaknya untuk berfikir. “ahhh gue tau!”
“apa?” tanyaku sama novan barengan.
“makan” jawab indy kegirangan.
“exactly” kataku.
“kalo gitu yuk sekarang makan!” ajak indy semangat.
Gantian novan yang pasang muka melas. “aje gile, tau gini
gue gak jadi dah ngasih tu tebakan”
Terus apa hubungannya indy yang suka makan pas ngambek sama
marahnya babenya novan? Begini kisahnya.
“pak pesen biasa” itu adalah kalimat indy ketika dia pesen
dikantin pada tanggal-tanggal muda. But, jangan salah artikan kata ‘biasa’
disini karena ‘biasa’ menurut indy dan menurut kebanyakan orang dalam hal makan
memakan adalah sesuatu yang jauh berbeda. Kata-kata ‘biasa’ itu meliputi hampir
seluruh daftar menu makanan yang tersedia dan pada akhirnya, sambil memandang
acuh “pak ntar dia ni yang bayar” tanpa dosa telunjuknya nunjuk muka novan yang
celingukan kaya monyet nyari pisang. Kemudian bapak-bapak itu sambil melototi
novan akan bilang, “uang saku lu gua potong bulan ini”. Siapakah bapak-bapak
itu? tidak lain dialah babenya novan.
“ahhaa.. tuh anjun dateng. Njuuunnn! baeibyyy...” indy
buru-buru menjemput anjun -cewek paling normal yang berada dikomplotan ini-
dengan pelukan manjanya. “lu dari tadi kemana aja sih? kita cariin gak keliatan
sama sekali. pasti lu sibuk ngegebet si Zul ya? Tega lu, gak ngerti apa temen
lagi susah gini” rengek indy sembari melanjutkan lagi melahap menu ‘biasa’nya
yang memenuhi meja.
“ahh zul mah lewat, gak penting. Ada yang lebih menarik”
Anjun senyam-senyum. “ eh tebak deh.. gue barusan dari kantor kepsek” ujarnya
girang.
“hah? Ngapain lu di kantor kepsek?” tanya kami bertiga.
Tentu saja kami kaget, halo komplotan kami adalah komplotan yang
terang-terangan menyatakan sikap kontra terhadap progam-progam kepsek. Ya emang
gak semua kami kontra, tapi kebanyakan iya. Salah satu contoh paling menonjol adalah
ketika sekolah mengagendakan progam studi tour pada akhir semester kemaren, ya
karena kamilah acara itu gagal total.
“lu gak nyogok buat lulus ujian kan?” tanya novan yang
kemudian dihadiahi sebuah jitakan manis yang akibatnya amat menyakitkan
didengar telinga.
Setelah puas njitaki novan, anjun mesam-mesem lagi.
“hhaaah?” mulutku menganga lebar.
“kenapa lu?” tanya indy sambil nyiram air kemulutku. Dasar
Indy tengil!
“lu gak nembak kepsek kan?” tanyaku dengan mata polos.
berselang satu atau dua detik saja meluncur bagai kilat suatu daya yang
mengungkit tubuhku, sekali ungkit akupun melayang untuk beberapa ke udara
beberapa detik. “Njun lu T-O-P B-G-T D-A-H-!”
Tentu saja aksiku mengundang mata penasaran anak-anak yang
juga lagi ngumpul dikantin, tapi mereka sudah maklum dengan semua tingkah dan
kegilaan kami. Mereka sudah bosan dengan semua hal aneh menyangkut komplotan
kami.
“lu apaan sih? jangan ngawur gitu ah” anjun berlagak
membersihkan bajunya yang tak kotor. ‘Gue B-E-R-S-I-H man’. Matanya melirik
rombongan cewek pesolek yang disebut-sebut sebagai gank “PEN’S GIRL”, hanya
saja nama itu diselewengkan oleh mayoritas penghuni sekolah menjadi “P-E-N-!-S
GIRL” karena kelakuan mereka yang tak senonoh. “hihii” anjun malah mesem lagi.
“jangan-jangan beneran...” kata novan dengan tatapan
menyelidik.
Anjun mengangkat tangannya, siap sedia mengeluarkan jurus
andalannya. ‘gua gampar lu’.
“iya-iya njun ampun. Lanjutin dah” novan mengiba.
“ehm..ehm..” anjun meraba lehernya, bersiap untuk pidato.
“lu bertiga masih inget ...”
“iya..iya.. gue inget” cerocos indy sembari tangannya masih
tak henti-hentinya menyuapkan makanan kemulut. “kemaren si silvi kesedak roti
yang didalemnya gue taroh laler ijo, huuahaahhaakkk...” tiba-tiba indy roboh,
ketawa sambil berkelojotan di lantai.
Entah karena apa dia terobsesi niru-niru tingkah silvi kemaren, bedanya kalo
silvi kesedak roti isi laler ijo sedang indy kesedak pentol segede bola kingkong.
“t---o---l---o---n---g---i---n---m---i---n---u---m---“ tangannya memegang
kerongkongan sedang matanya mendelik-mendelik menakutkan.
Aku sama novan ketawa sampe perut mules plus air mata
bercucuran, sedang anjun dengan sigap memberi pertolongan pertama. Dengan
tangan mungilnya dia getok kepala indy persis kaya menggetok balok pas karate,
setelah itu ia ambil gayung yang isinya penuh air dan ajaibnya setelah isi
gayung itu ludes indy sudah sehat dan ketawa-ketiwi seperti sedia kala.
Bener-bener gile itu anak. Sebagaimana aku, pastinya sodarah-sodarah juga
bertanya-tanya kemana perginya air dan pentol segede kingkong tadi? Kalo
jawabnya perut pasti anda sekalian akan ragu ketika melihat sendiri indy
melanjutkan makannya dengan semangat seperti orang kelaparan.
“lanjut gak nih?” tanya anjun kembali ke topik. Serius.
“lanjoot..” kami bertiga kompak.
“lu masih inget pengalaman kesasar di gua jepang?”
Langung kami serasa terbang ke alam lain.
“ahh.. inget..inget.. gara-gara kecerobohan tikus resek nih“
novan menunjuk indy, yang ditunjuk cengar-cengir saja.
Emang tuh pengalaman ngeri banget, berawal dari keisengan
indy yang pengen ngumpulin tai kampret untuk ngerjain pak bodhy, guru
matematika super duper galaknya minta ampun, khususnya sama indy.
“nah terus-terus.. inget apa lagi?” pancing anjun.
“gue inget. Karena kelaparan Indy makan gumpalan tanah
bercampur fermentasi tai kampret yang dia kira buah sawo” kata-kataku disambut
dengan geplakan keras di otak bagian belakang.
Kontak anjun dan novan terbahak, sedang indy merengut.
“ya ya itu termasuk bagian dari cerita. Tapi bukan itu yang
kumaksudkan. Coba deh kalian inget-inget lagi”
“apa ya?”
Kami bertiga mikir keras, tapi sepertinya percuma saja, karena
semakin keras kami mikir otak kami amburadul gak karuan.
“ahh kalian bertiga sama aja” cibir anjun.
“apaan sih njun? Ahhh bikin penasaran aja?” indy merengek.
“to the point aja lha njun..” nova membujuk.
“...” aku melongo dengan pandangan lurus menembus punggung
indy. Sesuatu telah menotok mataku.
“ahh.. gak seru.. gak surprise kalo diomongin langsung”
sergah anjun.
“lu ngliatin apaan sih?” novan menyilangkan tangannya
kemataku yang tak berkedip. “halahhh pantess..” begitu dia tau objek yang
menyilaukan mataku.
“apaan sih?” indy dan anjun ikutan penasaran.
“lu berdua, tepat arah jam dua belas”
Serentak mereka berdua memalingkan pandangan. “hmm...” indy
dan anjun berbarengan.
“ udah jangan ganggu orgil yang satu ini” kata indy.
Ya betul. Apanya yang betul? Tepat arah jam tiga dari sisi
novan, lewatlah ellena-sang singa betina yang anggun-yang berjalan bagai dewi
kwan im turun dari singsana teratai putihnya. Tiba-tiba senandung lagu titanic
mengantar ellena yang sedang mencari tempat duduk. Entah sengaja atau tidak
duduknya tepat menghadap kearahku. Cinta pertama emang sialan. Tapi sayangnya tepat
disamping ellena ada seekor monyet meraung-raung mencari perhatian sang dewi
yang merusak pemandangan.
“waduh itu ketua OSIS ngekor terus dari kemaren” novan
menggeleng kepala.
Anjun dan indy juga geleng kepala, bedanyanya mereka
menggelengkan kepala untukku. Mereka melihatku seperti melihat setan yang
kepingin naik ke syurga, sedang didalam batin mereka bertanya-tanya adakah
punguk menjadi astronot?
“ndy keluarin ajian lu. Kalo dibiarin lama-lama kasian yang
diliatin” novan mengulurkan simpati ketanganku dan segelas air putih putih
ketangan indy.
“byuuuuhhhh...!!” keluarlah ajian abab pembunuh jiwa. Bagai
semburan air dari selang pemadam kebakaran, semburan dari mulut indy
menyadarkanku dari kebakaran jiwa. Aku gelagapan ketika kembali kedunia nyata.
“udah bangun belum lu?” tanya novan.
“hahh...hahhh.. udah man udah” aku mengusap mukaku. “tarimo
kasih”
Novan dan indy mengangguk-angguk seperti dukun yang baru
saja menyembuhkan pasiennya dari kerasukan setan.
“gimana lanjut gak nih?” anjun mengambil giliran.
Diam sejenak.
“lanjut..” kami bertiga kompak.
“jadi gimana kalian inget gak? Coba diinget-inget lagi, apa
yang kita lakukan setelah kita kesasar waktu itu”
“itu maksudnya sewaktu kita udah selamet?” tanyaku.
Anjun mengangguk pelan.
“ahh.. maksudmu kita bikin tulisan catatan kesasar itu”
kataku lagi.
“nahh.. pinter” anjun menjambak-jambak rambutku dengan
semangat.
“please njun.. aku udah keluar duit banyak buat mandi pake
elips biar nih rambut lebat, jangan lu rontokin lagi” aku mengibas-ngibas
rambutku.
“ehhehehe maaf”
“jadi gimana cerita selanjutnya?” giliran novan yang tanya.
“jadi singkat cerita tulisan yang kita bikin kemaren gue
kumpulin lalu gue kirim ke departemen pemuda dan olahraga karena kebetulan gue
dapet ni” anjun nyerahin sebuah kertas pengumuman dari departemen pemuda dan
olahraga tentang festival anak muda yang salah satunya ada lomba menulis. “Dan
lu tau apa yang terjadi selanjutnya?”
Tiba-tiba suasana jadi tegang banget. Kami menunggu dengan
antusias setiap kalimat berikutnya yang bakal muncul dari mulut anjun.
“taraaa..” anjun mengeluarkan sebuah amplop coklat yang
bersegel dari departemen pemuda dan olahraga. “tulisan kita masuk nominasi dan kita
bakal ikutan di writing camp di bali maaannn!!!”
“heh! Beneran lu?!” tanya kami kompak.
“sumpah”
“swear?” novan masih gak percaya.
“yaelah ngapain gue ngeboongin kalian”
“lu gak nyogok menteri pemuda dan olahraga kan?” tanyaku
yang langsung disambut tonjokan maut oleh anjun.
“yeeaaaaayyyy!!!!” kami bersorak bersama.
Ahhh.. kawan andai kalian tau indahnya persahabatan.
Senin, 20 Juli 2015
kembali ke joe
hari itu aku ketemu lagi sama joe. dia ini teman karib di bangku kuliah. tapi dia bukan teman kuliah, hanya teman ketemu dijalan. itu saat masih sore, belum begitu gelap. joe yang sudah sekian lama menghilang tiba-tiba muncul secara ajaib dipojokan taman alun-alun kota. herannya nih, heran banget. sebelum-sebelumnya aku belum pernah sekalipun menginjak taman alun-alun kota, jangankan pergi kesana, tertarik aja nggak. apa sebab? itu taman nggak banget. spotnya gak enak dihati, lay outnya ancur apalagi penampilannya, ngingetin sama nenek-nenek gila disebelah rumah. tapi sore itu kisah berkata lain. gak tau kenapa aku yang biasanya gak pernah mau nganterin kakak ipar pasar malah setuju untuk nganter, alhasil seperti yang sudah diduga, dasar si kaka ipar itu miss shopping, kalo shopping lama plus senengnya muter-muter pasar ampe 5 kali kalo belum lima kali kayanya belum puas.
daripada bosen akhirnya aku jalan-jalan aja. mau ngikut ogah, daripada kaki bengkak. saat itulah angin membawa langkah kakiku menuju ke taman di pojokan alun-alun. sebenarnya gak tau kenapa bisa kesana padahal ada banyak pilihan kalo mau sekedar menghindari rasa bosan, bisa ke warnet (pilihan favorit), bisa ke warung, bisa ke masjid, atau bisa ke rental PS. tapi kaki ini memilih ke taman ancur itu.
mulanya aku gak liat joe. karena dia duduk diantara bunga pucuk merah yang rimbun, lagipula dia memunggungiku. tapi intuisiku berkata lain, dia berkata ada sesuatu yang menungguku disana, aura tempat itu menjadi berbeda sekali dengan tempat manapun yang pernah kudatangi. ada semacam tekanan yang menggencet batin, jika anda bisa mengerti, tapi kukira semua orag pasti pernah merasakannya. jika anda pernah merasakan hawa yang aneh atau perasaan yang aneh ditempat angker, nah kira-kira seperti itulah yang aku rasakan, tapi maaf si joe ini bukan jin.
walaupun rasa was-was menghinggapiku, kakiku mengabaikannya dia terus melangkah sampai akhirnya mataku menangkap punggung itu, punggung yang telah lama kulupa. di duduk tenang seperti biasa, bersideku menatap jalan. ada rasa yang aneh didadaku ketika aku yakin bahwa itu si joe. tiba-tiba munul perasaan takut dan senang sekaligus, belum lagi beribu pertanyaan dan penyataan didalam pikiran. sepertinya aku lebay, oh bukan, bukannya aku lebay, aku juga bukan homo, jika anda pernah merasakan kerinduan yang sangat, kemudian anda bertemu dengan sesuatu yang anda rindukan, mungkin bisa menjadi gambaran.
sekian menit aku terdiam dalam nafas. hanya menatap punggung joe tanpa berani menyapanya. berharap dialah yang menoleh lalu menyapaku. tapi sepertinya hal seperti itu takkan pernah terjadi, seperti pertemuan kami kali pertama, dan pertemuan-pertemua selanjutnya, akulah yang menjadi tuas takdir jalinan kisah diantara kami.
dan akhirnya..
"joe.. kamu kok bisa disini?"
joe menoleh, senyum terpatri di bibirnya. "hanya kebetulan." jawaban yang seperti biasa ia berikan. hanya kebetulan saudara-saudara. kebetulan itu menjadi kata yang ambigu didalam kamusku.
aku memandang joe dan begitupun joe. aku duduk disebelahnya. "mau minum?" tawarku. aku menyodorkan minuman susu kotakan milik ponakan. dan dengan ringan tangan joe menerimannya. "sudah lama banget kita gak ketemu ya?"
joe tersenyum. "iya. udah berapa tahun ya?"
"berapa ya?" aku menggaruk dahi yang tak gatal. "lama lah pokoknya. tapi kamu kok bisa tau aku ada disini?" kutepuk bahu joe. sebenarnya aku tegang sekali.
joe memegang kotak susu formula itu erat. "kebetulan saja." matanya melirik kanan dan kiri. "tuh bus yang kutumpangi lagi mogok." dia menunjuk sebuah mini bus yang lagi di dongkrak.
aku memandang joe. antara percaya dan tidak, tapi setahuku joe tak pernah bohong. jadi aku menelan ludah untuk satu kebetulan ini.
"emang kamu mau kemana joe?"
"yah seperti biasa."
aku mangut-mangut walaupun bingung, karena seperti biasa ini berarti dia lagi mengikuti arah angin. dari dulu dia memang seperti itu.
tiba-tiba sebuah minibus datang. orang-orang yang berserakan disekitar bus yang mogok pada masuk ke bus itu. joe berdiri. "aku harus pergi." katanya. aku hanya termangu menatapnya. ini sebuah pertemuan yang singkat seperti biasanya. dari kantong jaketnya dia mengeluarkan sebuah kaleng minuman.
"ini menjelang musim panas." katanya sambil menyerahkan minuman kaleng itu. joe pergi lagi seperti biasa, tanpa salam perpisahan tanpa beban. aku menatap kepergian minibus yang membawa dengan tatapan hampa, sekosong hati dan nanarnya pikiran. ketika minibus itu telah menghilang dari pandanganku, kutatap kaleng pemberian joe. kaleng bergambar beruang.
hari itu aku ketemu lagi sama joe. dia ini teman karib di bangku kuliah. tapi dia bukan teman kuliah, hanya teman ketemu dijalan. itu saat masih sore, belum begitu gelap. joe yang sudah sekian lama menghilang tiba-tiba muncul secara ajaib dipojokan taman alun-alun kota. herannya nih, heran banget. sebelum-sebelumnya aku belum pernah sekalipun menginjak taman alun-alun kota, jangankan pergi kesana, tertarik aja nggak. apa sebab? itu taman nggak banget. spotnya gak enak dihati, lay outnya ancur apalagi penampilannya, ngingetin sama nenek-nenek gila disebelah rumah. tapi sore itu kisah berkata lain. gak tau kenapa aku yang biasanya gak pernah mau nganterin kakak ipar pasar malah setuju untuk nganter, alhasil seperti yang sudah diduga, dasar si kaka ipar itu miss shopping, kalo shopping lama plus senengnya muter-muter pasar ampe 5 kali kalo belum lima kali kayanya belum puas.
daripada bosen akhirnya aku jalan-jalan aja. mau ngikut ogah, daripada kaki bengkak. saat itulah angin membawa langkah kakiku menuju ke taman di pojokan alun-alun. sebenarnya gak tau kenapa bisa kesana padahal ada banyak pilihan kalo mau sekedar menghindari rasa bosan, bisa ke warnet (pilihan favorit), bisa ke warung, bisa ke masjid, atau bisa ke rental PS. tapi kaki ini memilih ke taman ancur itu.
mulanya aku gak liat joe. karena dia duduk diantara bunga pucuk merah yang rimbun, lagipula dia memunggungiku. tapi intuisiku berkata lain, dia berkata ada sesuatu yang menungguku disana, aura tempat itu menjadi berbeda sekali dengan tempat manapun yang pernah kudatangi. ada semacam tekanan yang menggencet batin, jika anda bisa mengerti, tapi kukira semua orag pasti pernah merasakannya. jika anda pernah merasakan hawa yang aneh atau perasaan yang aneh ditempat angker, nah kira-kira seperti itulah yang aku rasakan, tapi maaf si joe ini bukan jin.
walaupun rasa was-was menghinggapiku, kakiku mengabaikannya dia terus melangkah sampai akhirnya mataku menangkap punggung itu, punggung yang telah lama kulupa. di duduk tenang seperti biasa, bersideku menatap jalan. ada rasa yang aneh didadaku ketika aku yakin bahwa itu si joe. tiba-tiba munul perasaan takut dan senang sekaligus, belum lagi beribu pertanyaan dan penyataan didalam pikiran. sepertinya aku lebay, oh bukan, bukannya aku lebay, aku juga bukan homo, jika anda pernah merasakan kerinduan yang sangat, kemudian anda bertemu dengan sesuatu yang anda rindukan, mungkin bisa menjadi gambaran.
sekian menit aku terdiam dalam nafas. hanya menatap punggung joe tanpa berani menyapanya. berharap dialah yang menoleh lalu menyapaku. tapi sepertinya hal seperti itu takkan pernah terjadi, seperti pertemuan kami kali pertama, dan pertemuan-pertemua selanjutnya, akulah yang menjadi tuas takdir jalinan kisah diantara kami.
dan akhirnya..
"joe.. kamu kok bisa disini?"
joe menoleh, senyum terpatri di bibirnya. "hanya kebetulan." jawaban yang seperti biasa ia berikan. hanya kebetulan saudara-saudara. kebetulan itu menjadi kata yang ambigu didalam kamusku.
aku memandang joe dan begitupun joe. aku duduk disebelahnya. "mau minum?" tawarku. aku menyodorkan minuman susu kotakan milik ponakan. dan dengan ringan tangan joe menerimannya. "sudah lama banget kita gak ketemu ya?"
joe tersenyum. "iya. udah berapa tahun ya?"
"berapa ya?" aku menggaruk dahi yang tak gatal. "lama lah pokoknya. tapi kamu kok bisa tau aku ada disini?" kutepuk bahu joe. sebenarnya aku tegang sekali.
joe memegang kotak susu formula itu erat. "kebetulan saja." matanya melirik kanan dan kiri. "tuh bus yang kutumpangi lagi mogok." dia menunjuk sebuah mini bus yang lagi di dongkrak.
aku memandang joe. antara percaya dan tidak, tapi setahuku joe tak pernah bohong. jadi aku menelan ludah untuk satu kebetulan ini.
"emang kamu mau kemana joe?"
"yah seperti biasa."
aku mangut-mangut walaupun bingung, karena seperti biasa ini berarti dia lagi mengikuti arah angin. dari dulu dia memang seperti itu.
tiba-tiba sebuah minibus datang. orang-orang yang berserakan disekitar bus yang mogok pada masuk ke bus itu. joe berdiri. "aku harus pergi." katanya. aku hanya termangu menatapnya. ini sebuah pertemuan yang singkat seperti biasanya. dari kantong jaketnya dia mengeluarkan sebuah kaleng minuman.
"ini menjelang musim panas." katanya sambil menyerahkan minuman kaleng itu. joe pergi lagi seperti biasa, tanpa salam perpisahan tanpa beban. aku menatap kepergian minibus yang membawa dengan tatapan hampa, sekosong hati dan nanarnya pikiran. ketika minibus itu telah menghilang dari pandanganku, kutatap kaleng pemberian joe. kaleng bergambar beruang.
Sabtu, 27 April 2013
Mata Rantai Yang Hilang

Aku sibuk mengaduk-aduk adonan ketika Anna berteriak kegirangan setelah membaca SMS yang memberitahukan bahwa proyek yang ia tawarkan kepada salah satu organisasi kemasyarakatan lokal goal. Sambil berlonjak-lonjak senang Dia datang kepadaku memperlihatkan SMS yang diterimanya.
“Gimana benerkan? Pasti goal” Ujarnya riang seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah mainan. “Kan udah Anna mintain sama Allah, hehe..” Nyengir.
“Alhamdu..” Ucapku yang dengan sengaja tak kuselesaikan. Sebuah habbit untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
“Lillaaahh...” Anna melanjutkan dengan semangat. “Tinggal eksekusi progamnya. Ntar minta bantuannya ya?”
“Siap Permaisuri. Hamba akan melayani dengan senang hati” Kelakarku. Aku berhenti sejenak mengaduk adonan, berdiri, lalu kubungkukkan badan sambil meletakkan tangan didada ala bangsawan eropa. “Insyaallah”
“Hehe.. makasih.. Ayank baik bangeet..” Anna tertawa senang. Sekilas taring kucing tunggalnya terlihat putih bersinar saat ia tertawa, hal paling kusuka ketika melihatnya tawanya. “Gimana adonannya? Dah jadi? Boleh icip-icip gak?” Tangan kecilnya siap menyerobot dipinggiran wajan, mencari kesempatan mencuil barang sedulit dua dulit adonan yang sedang dalam proses.
“Eitts..” Kutepis tangan Anna. Lalu dengan isyarat telunjuk aku melarangnya. “No..no..no..” Mimikku serius. “Adonannya belum jadi dan belum boleh diicip-icip. nanti kalo da cukup matang, ok!” Aku terus mengaduk sambil sesekali memerhatikan api dari kayu bakar agar tidak kegedean atau mati. Anna mengangguk nurut sambil melihatku seperti anak kucing yang ingin dibelai manja majikannya. Ceritanya Kami sedang bereksperimen resep produk olahan makanan yang Insyaallah akan menjadi basis usaha keluarga.
“Mas belajar masak dimana sih? kok masak apa aja bisa, makanan ringan, makanan berat, dan makanan aneh-aneh kaya kemaren. Kayaknya gampang banget gitu liat Mas masak, jadi ngiri” Anna manyun melihat tanganku yang sedang mengaduk-aduk adonan, lalu air mukanya berubah serius, seolah-olah sedang mempelajari sesuatu dari itu. Sesekali Ia membantu memisahkan beberapa adonan yang gosong karena kelalaianku dalam mengaduk.
“Mau tau?” Tanyaku. Anna mengangguk. “Bener mau tau?” Kunaikkan intonasinya. Anna mengangguk lagi. “Beneran mau tau?” Kunaikkan lagi intonasinya satu tingkat. Anna mengangguk gak sabar. “Mau tau aja atau mau tau banget?” Tanyaku lembut berbisik ke telinga Anna yang kemudian membuatnya merajuk manja.
“Ahh.. Mas ihh..” Rajuk Anna sambil mencubiti bahuku.
“Jawabannya adalahhh... deng..deng..” Aku bergaya seperti di acara kuis-kuis. “Pergi ke Mbah google, hehee..”
“Mbah google? Siapa mbah google? Emang ada orang yang namanya kaya gitu? Kok kaya nama apa gitu diinternet”
“Hahahaa.. makanya Ayank..” Kucubit pipi Anna dengan gemas. “Jadi orang tu jangan gaptek. Mbah google tu ya emang internet, lebih tepatnya mesin searching buat surfing” Aku ngakak gak abis-abis melihat kepolosan Istriku. Harap maklum sodara-sodara, Istriku ini emang kurang familiar dengan internet. Aku juga heran Kok bisa-bisanya ada anak abad 20 model gitu.
Merasa dijadiin bahan tertawaan Anna semakin cemberut, sambil buang muka bibirnya meruncing menggumamkan kata-kata “kalo emang gak mau beritahu gak usah menghina”
“Hehe.. maap..maap.. gak ketawa lagi deh. Ntar tak ajarin gimana caranya biar pinter masak dengan bantuan mbah google” Janjiku.
“Beneran ya?” Anna menatapku tajam.
“Siap” Aku hormat dengan penuh semangat.
Beberapa menit keheningan menyapa kami. Aku sibuk mengaduk-aduk adonan sedangkan Anna sibuk menjaga kestabilan api.
“Emm.. Ayank.. sebenarnya ada satu hal yang sampai saat ini membuatku penasaran banget” Aku membuka suara memulai sebuah topik baru.
“Apa?” Anna masih sibuk memasukkan kayu sengon kering kedalam perapian.
Sejenak aku ragu akan pertanyaanku, tapi kupikir sejenak, justru perasaan yang seperti yang harus dihilangkan dalam sebuah kehidupan rumah tangga. “Kenapa sih Ayank dulu bisa yakin banget sama Mas pas nantang merit. Emang apa alasannya? Ayank kenal Mas ja juga baru sebentar banget. Seingat Mas kita baru komunikasi tu setelah ada tugas kelompok campuran dari Pak Sudi, gak lebih dari 3 bulan tho”
“Kan Allah yang ngasih keyakinan” Jawab Anna diplomatis.
“Yee.. kalo itu mah Mas juga tau. Tapi Mas merasa pasti ada alasan lain yang melatarbelakangi semuanya. Nah apa itu?” Korekku.
Anna malah tersenyum malu tapi mau.
“Kan kayaknya aneh aja, ada seorang wanita mendatangi seorang pria, ngajak merit tanpa ia mengenalnya dengan seksama terlebih dahulu, atau paling gak ada yang merekomendasikan, tapi setau mas proses kita itu kan gak ada perantaranya”
“Hehee.. siapa bilang Anna gak tau Mas, Mas aja yang gak tau Anna” Ucap Anna ringan.
Aku menelan ludah dan nyengir mendengar ucapan Anna. “Maksudnya? Coba dijelasin lebih detil”
“Yang jelas sudah pasti Anna ta’rif dulu tentang Mas mengenai hal-hal yang sudah Anna tentukan sebelum bulat mengambil keputusan itu. Bagaimanapun pernikahan dan rumah tangga bukanlah perkara main-main atau sekedarnya saja. Anna paham betul hal itu” Jelas Anna dengan ekspresi serius. Hilang sudah penampakan imut-imut dan jiwa kekakanannya jika dalam keadaan seperti itu. “Tapi sebenernya semua info tentang Mas justru Anna dapet secara gak langsung”
Ini perempuan emang gak terduga sama sekali. “Secara gak langsung gimana maksudnya?” Aku semakin penasaran.
“Hehee..” Anna malah cengengesan.
Aku menggelengkan kepala. Ternyata istriku jauh lebih menakutkan daripada yang terlihat.
“Anna tu tau Mas sebagian dari pengamatan Anna sendiri ketika komunikasi sama Mas, sedangkan sebagiannya lagi dari temen-temen ketika mereka gosipin Mas”
Alisku terangkat. Kaget. “He? Dari temen-temen? Gosip? Maksudnya?”
“Tau gak sih? dulu tu Mas sering digosipin sama temen-temen akhwat diasrama, terutama setelah even KKL. Anna emang gak ikut secara langsung sih tapi kena efek suaranya”
“Kena efek suara apa ikutan ngegosip?” Cibirku.
“Anna gak ikut nimbrung Mas, beneran, tapi emang suara temen-temen tu kedengeran sampai kamar Anna” Dalih Anna.
“Oke..okelah. Lupakan hal itu. Lanjut..” Aku memilih tidak banyak berdebat kusir dengan Anna karena aku sudah tidak sabar mendengar yang selanjutnya. “Siapa aja yang gosipin?” tanyaku lagi dengan naluri membara.
“Mm.. siapa aja ya.. Teh Aisy, Mbak Nira, Mbak Vivi, Mbak Ini, Mbak Itu.. bla..bla..bla..” Suara Anna terdengar seperti dengungan lebah ditelingaku. Tak terduga. Siapa yang sangka para akhwat yang dari luar tampak pendiam, menjaga diri, dan kelihatan anggun itu ternyata seneng ngegosip juga. Aku menggelengkan kepalaku. Bagaimanapun akhwat tetaplah manusia biasa. Terus gimana denganku setelah mengetahui semua itu sekarang? Senengkah? Banggakah? Kecewakah? Atau apa? Ahh entahlah.. normal bagiku jika merasakan hal seperti itu. Sayangnya itu masa lalu dan baru kebuka sekarang, coba kalo dari dulu.. hehe.. Astaghfirullah! Wahai setan pergi! Aku takkan terayu bujukanmu untuk berpanjang angan-angan.
“Hmm.. ternyata banyak juga ya. Berarti terkenal dong Mas? Hehe..” Ujarku kepedean.
“Jangan pede dulu. Emang iya terkenal, tapi terkenal anehnya.” Cibir Anna.
“Kok aneh? maksudnya” Tanyaku.
“Emang Mas gak ngerasa aneh?” Anna balik tanya. “Mas tu ya orangnya gak tertebak. Seringnya yang nampak tu tampangnya serem, nyungkanin banget diliat mata. Tapi ada kalanya terlihat lucu banget, khususnya pas kuliah Mas ketawa-ketiwi sendiri baca buku kuliah, padahal bahasanya super kaku, emang apa lucunya coba buku sistem informasi manajemen? Terus pas bacain puisi buat Kak Ali juga konyol banget, semua Akhwat gak ada yang gak ketawa liat Mas yang kaya gitu. Terus kadang juga keliatan bijaksanaaaa... banget, terutama bahasa SMSnya dan pas ngelayani konsultasi psikologi”
Aku tertawa mendengar apa yang diceritakan Anna dan dari situ kuakui selera humorku emang rada aneh. “Owh.. ok. Teruskan..teruskan”
“Ya udah itu aja”
“Ah masak cuma itu yang bikin Ayank sampe ngotot ngelobi keluarga? bahkan sampe semua heran lho, baru kali itu ngeliat seorang Anna yang terkenal degan kepala batunya itu pengen nikah, padahal kemaren-kemaren dilamarin orang-orang berkelas ditolak semua. Lha giliran ini, cowok yang baru dikenal, masih belum jelas masa depannya gimana, udah ngebetnya minta ampun pengen dinikahin”
“Mm.. apa ya?” Anna berfikir keras mengingat sesuatu yang mungkin terlewat. “Emang sih jujur ya mas, sebab Anna bisa penasaran dan tertarik sama Mas tu setelah dapet cerita-cerita tentang Mas dari Lina” Ungkap Anna malu-malu. “Bisa jadi info-info detil dari Lina itu menjadi salah satu faktor yang buat Anna makin yakin dan mantap”
“Ha? Siapa? Lina? Kok bisa? Emang dia cerita apa aja?”
“Hmm.. banyak pokoknya. Semua tentang Mas deh, Dia bercerita dengan semangat dan senang hati tanpa diminta. Mungkin dari ujung rambut sampai ujung kuku sudah pernah diceritakan semua olehnya. Haha..” Anna tertawa riang, sedangkan aku merasa agak aneh mendengar penuturan Anna. Sekarang baru tau ternyata ada pihak ketiga yang menjadi narasumber utama. “Makanya dulu kan pernah Anna minta ijin sama Mas boleh gak dengar cerita tentang Mas? Dan Mas jawab boleh, jadi ya udah lanjut”
Tiba-tiba sesuatu tentang Lina terlintas dibenakku. Seperti tersambar tiang listrik, Aku tersadar sesuatu. Mata rantai yang hilang. Mengapa dia begitu bersemangat dan senang hati bercerita semua hal tentangku? Bahkan tanpa diminta? Apa maksud semua itu? semakin berfikir, semakin berdesir dadaku. Jelas sebagai seorang pengamat psikologi walaupun amatiran, aku sudah tau jawaban dari apa yang aku tanyakan, tapi sayang aku tak mampu mendongakkan muka melihat jawaban seterang matahari itu. Bukan tak mampu tapi tak mau karena rasa malu.
“Emang dari awal udah ada niatan mau ngajak merit gitu?” Tanyaku lagi.
“Mas kepedean. Anna tu awalnya gak ada niatan sama sekali buat tau tentang Mas, apalagi mau merit sama Mas. Semua muncul begitu aja setelah denger cerita-cerita dari Lina tentang Mas dan mastiin sendiri apa emang mas tu seperti yang diceritain Lina”
Tanganku berhenti mengaduk, sesuatu membuatku seolah tak mampu menggerakkan bahu dan lenganku. Mukaku menatap kosong adonan didepanku. Apakah ini maksud dari raut wajahnya yang kosong, pucat pasi, layu, dan matanya yang sembab saat aku bertemu dengannya terakhir kali? Serasa runtuh semua logika yang kubangun selama ini memikirkan hal itu. Ada yang tertahan didalam diriku, sesuatu yang besar, sesuatu yang belum sempat kusampaikan hingga detik terakhir saat dia menatapku dengan wajah gembira tapi sendu.
“Ihh.. Mas gosong tuhh..” Anna berlonjak-lonjak menepuki bahuku, sejurus kemudian menciduki adonan yang gosong dengan senjata centong kayunya.
Aku berjingkat kaget dan spontan langsung mengaduk-aduk lagi dengan kecepatan tinggi tak terkendali hingga membuat wajan nyaris tumplek.
Duhai waktu salahkah aku?
Senin, 15 April 2013
The Great Planning
Emg g da rsa tkt tau khwtr sm skl dgn rsko dan knsekuensinya? Q ni msh nol. Krjaan blm ada, hdp blm mapan, n pnglman jg msh sdkt
Sbg mnsia bysa tnt hal tu da. Tp q brfkir bhw q kn pny Allah yg mha mgblkan doa. Jd q g khwtr kl yg mygkt kduniawian. Rizki? Smwny sdh d tlskn kn? Bhkn sblm kta lhir. N antm tu g nol? Antm pny iman, antm pny ilmu dan jstru itlh mdal yg plg pntg n brhrga.
Subhanallah.. serasa langsung rontok dadaku. Gemetaran ketika membaca kalimat singkat namun memiliki makna yang dalam itu. Perlahan air mataku menetes walau tak kuijinkan ia keluar. Aku merasa malu. Merasa begitu kecil. Pada Allah, pada diriku sendiri, dan pada dia.
Faidza azamta fatawakkal alallah. Ktk kta sdh yakin n brazam trhdp 1 kptsan, y sdh tggl kta ushkn smksimal mgkn dan brtawakkal kpd Allah. Cz Allah pst me2lihr org2 yg bertwakkal. Insyaallah dg iznNy smua akn dickpi. Jd apa yg prlu dkhwtrkan? Bknkh alam, jgad raya, dan khidupan ni mlk Allah?
Astaghfirullah..
Lgpla lht btpa indhny jnji Allah tntg prnkhan 2 hmba yg ign mjg khrmtannya? Subhanallah.. brkhnya bhkn trs hny dg mmkrkannya. 3 gol yg brhk ditlng Allah, slah stuny adl 2 hmba yg mnkah cz ign mnjg kesucian dan khrmatanny (Alhadits)
Iya ukhti. Mr kt jmpt jnji Allah n Rasulnya yg mlia. Subhanallahu lahaula wala quwwata illa billah. nikmalmaula wanikmalwakil nikmalmaula wanikmannasir. Q mengkhitbahmu hr ni. Smg Allah mlpangkn n mmdahkn jln kta
Alhamdulillah. Amin
Klo bgt lgkh slnjtnya adl mlksnkn plning yg tlh d ssun di proposal kmrn?
Iya smg Allah mmdhkan
Amin
Sebelum komunikasi diatas aku sudah beristikharah beberapa kali dan jawaban yang muncul memang cenderung untuk menerima. Tapi ada beberapa bagian dari diriku yang entah kenapa masih belum merasa yakin, oleh karena itu aku menanyakan hal-hal yang kurasa perlu kutanyakan kepadanya.
Setelah itu kami harus melaksanakan planing yang telah kami susun secara rinci. Planing yang diberi judul “the way to heaven” itu merupakan planing gabungan yang disarikan dari proposal kami berdua. Planing tersebut dibagi menjadi dua bagian besar yaitu bagian horisontal dan bagian vertikal. Yang dimaksud bagian horisontal adalah yang berhubungan dengan Allah, sedangkan bagian vertikal yang berhubungan dengan keluarga, orang-orang terdekat, terutama orangtua.
Untuk planing bagian pertama diperuntukkan khusus untuk meminta ridho dan pertolongan Allah. Kami sadar bahwa dalam proses tersebut kami penuh sekali dengan keterbatasan. Karenanya kiranya kami berbelas kasih kepada Allah agar berkenan menutup semua keterbatasan itu. Kurang lebih ada tujuh poin yang tertera yang harus dijadikan habbit agar pertolongan itu segera tiba:
- Memuhasabahi diri terhadap 10 dosa besar penghalang rizki, jika ada langsung bertaubat dengan taubatan nasuha
- Menjaga shalat fardu secara berjamaah dan berada didalam masjid pada waktu antara adzan dan iqomah karena itu adalah salah satu waktu ijabahnya doa
- Menjaga shalat sunnah. Rawatib, duha, tahajjud, dan hajat
- Banyak membaca Al-quran dan merenungi maknanya, terutama surat-surat pilihan seperti Al-mulk, Arrahman, Al-waqiah, dan Yasin.
- Senantiasa berdoa diwaktu-waktu mustajab
- Memperbanyak dzikir riyadhoh, terutama di sepertiga malam terakhir. Direkomendasikan shalawat istighfar atau asmaul husna
- Bersedekah sebanyak-banyaknya untuk mempercepat turunnya pertolongan Allah. sedekah paling tidak 10% dari estimasi seluruh dana yang dibutuhkan dalam menyelenggarakan acara (cara ini adalah jurus yang dipopulerkan oleh ustadz yusuf mansur).
Untuk planing bagian kedua diperuntukkan agar langkah kami mendapat restu keluarga, terutama dari orangtua. Karena kami sadar bahwa ketika punya niat atau rencana yang baik restu Allah dan orangtua adalah dua hal yang tak terpisahkan apabila ingin rencana tersebut mendapatkan berkah dari langit. Untuk itu ada tiga pintu yang harus dilewati sebelum sampai goal, pada bagian ini diutamakan satu pintu harus berhasil dibuka sebelum beranjak ke pintu yang lain:
- Menaklukkan keluarga terutama kedua orangtua. Kami harus mengkomunikasikan niat dan rencana baik yang telah kami susun kepada ortu, diutamakan yang paling dekat psikologisnya. Menjelaskannya, memberi alasan dan visi misinya, serta tak lupa memperkenalkan calonnya.
- Exchange communication. Aku berkomunikasi dengan ortunya dan begitu juga sebaliknya. Komunikasi perdana ini dimaksudkan untuk melamar secara tidak resmi dan agar ortu bisa mengenal lebih jauh calon mantunya. Komunikasi ini dilakukan via telepon.
- Teleconference. Komunikasi bersama antara aku, dia, kedua ortu kami, dan pihak-pihak yang dirasa perlu dilibatkan dalam komunikasi ini. Komunikasi ini juga dilakukan via telepon.
- Melamar secara resmi. Aku datang dengan ortu atau wali kerumah dia untuk meminta secara resmi dihadapan keluarga besar.
- Goal alias nikah
Apakah rencana ini akan berjalan sebagaimana mestinya? I don’t know. Kita liat saja nanti bagaimana kelanjutannya.
