Andai kita satu SMA
“haahhh kutu kupret!!” indy mengumbar kata-kata favoritnya,
super kasar sekasar wajahnya yang penuh jerawat. Dengan muka bersungut-sungut
dia berjalan penuh emosi disepanjang lorong kelas satu, apapun yang ada
didepannya pasti dia tendang.
“udah dong ndy itu kan masalah kecil, lu jangan kebawa emosi
gitu. Ntar kalo lu gak mood bisa berabe babe gue” novan mengelus indy dengan
gaya bijak mahatma gandhi, maklum minggu lalu dia baru pentas teater yang berperan
sebagai kacungnya mahatma gandi.
Indy melirik tajam. “masalah kecil gimana? Yang bener aja!
Lu kan tadi liat sendiri pas si kuntilanak-santi- ngemanfaatin kesempatan dalam
kesempitan nendang pantat gue ampe gue hampir aja nubruk randy“ muka indi
menampakkan semburat merah ketka dia menyebut nama randy.
“itu mah gampang penyelesaiannya” kataku sok tau.
“gimana?”
“lu ambil tank topnya waktu olahraga, lu kasih ke indra
-cowok yang masuk nominasi cowok paling jelek dan gak tau diri-, biar dipelet
sama dia, dijamin dia gak bakalan ganggu lu lagi“ jawabku datar.
“huahahaa betul juga lu!” indi tertawa puas. Entah apa yang
membuatnya puas, aku sendiri gak tau kenapa juga ngasih ide kaya gitu. Lalu dia
menatap novan. “trus apa tadi kata lu? Apa hubungannya gue gak mood ama babe
lu?” Sebuah pertanyaan yang mewakili penasaran segenap para pembaca.
Novan tepuk jidat. “lu pikir dah, kalo lu bete, apa
obatnya?” tanya novan mengulum senyum.
Aku mau ikutan nebak, tapi novan mengerdikkan alisnya. Lu gak
usah ikut-ikutan jawab kampret!
“apa? emang apa?” indy terpancing penasaran.
“masak lu gak paham ama diri lu sendiri?” sindir novan.
“apa si?” kening indy berkerut, tanda ia sedang memaksakan
otaknya untuk berfikir. “ahhh gue tau!”
“apa?” tanyaku sama novan barengan.
“makan” jawab indy kegirangan.
“exactly” kataku.
“kalo gitu yuk sekarang makan!” ajak indy semangat.
Gantian novan yang pasang muka melas. “aje gile, tau gini
gue gak jadi dah ngasih tu tebakan”
Terus apa hubungannya indy yang suka makan pas ngambek sama
marahnya babenya novan? Begini kisahnya.
“pak pesen biasa” itu adalah kalimat indy ketika dia pesen
dikantin pada tanggal-tanggal muda. But, jangan salah artikan kata ‘biasa’
disini karena ‘biasa’ menurut indy dan menurut kebanyakan orang dalam hal makan
memakan adalah sesuatu yang jauh berbeda. Kata-kata ‘biasa’ itu meliputi hampir
seluruh daftar menu makanan yang tersedia dan pada akhirnya, sambil memandang
acuh “pak ntar dia ni yang bayar” tanpa dosa telunjuknya nunjuk muka novan yang
celingukan kaya monyet nyari pisang. Kemudian bapak-bapak itu sambil melototi
novan akan bilang, “uang saku lu gua potong bulan ini”. Siapakah bapak-bapak
itu? tidak lain dialah babenya novan.
“ahhaa.. tuh anjun dateng. Njuuunnn! baeibyyy...” indy
buru-buru menjemput anjun -cewek paling normal yang berada dikomplotan ini-
dengan pelukan manjanya. “lu dari tadi kemana aja sih? kita cariin gak keliatan
sama sekali. pasti lu sibuk ngegebet si Zul ya? Tega lu, gak ngerti apa temen
lagi susah gini” rengek indy sembari melanjutkan lagi melahap menu ‘biasa’nya
yang memenuhi meja.
“ahh zul mah lewat, gak penting. Ada yang lebih menarik”
Anjun senyam-senyum. “ eh tebak deh.. gue barusan dari kantor kepsek” ujarnya
girang.
“hah? Ngapain lu di kantor kepsek?” tanya kami bertiga.
Tentu saja kami kaget, halo komplotan kami adalah komplotan yang
terang-terangan menyatakan sikap kontra terhadap progam-progam kepsek. Ya emang
gak semua kami kontra, tapi kebanyakan iya. Salah satu contoh paling menonjol adalah
ketika sekolah mengagendakan progam studi tour pada akhir semester kemaren, ya
karena kamilah acara itu gagal total.
“lu gak nyogok buat lulus ujian kan?” tanya novan yang
kemudian dihadiahi sebuah jitakan manis yang akibatnya amat menyakitkan
didengar telinga.
Setelah puas njitaki novan, anjun mesam-mesem lagi.
“hhaaah?” mulutku menganga lebar.
“kenapa lu?” tanya indy sambil nyiram air kemulutku. Dasar
Indy tengil!
“lu gak nembak kepsek kan?” tanyaku dengan mata polos.
berselang satu atau dua detik saja meluncur bagai kilat suatu daya yang
mengungkit tubuhku, sekali ungkit akupun melayang untuk beberapa ke udara
beberapa detik. “Njun lu T-O-P B-G-T D-A-H-!”
Tentu saja aksiku mengundang mata penasaran anak-anak yang
juga lagi ngumpul dikantin, tapi mereka sudah maklum dengan semua tingkah dan
kegilaan kami. Mereka sudah bosan dengan semua hal aneh menyangkut komplotan
kami.
“lu apaan sih? jangan ngawur gitu ah” anjun berlagak
membersihkan bajunya yang tak kotor. ‘Gue B-E-R-S-I-H man’. Matanya melirik
rombongan cewek pesolek yang disebut-sebut sebagai gank “PEN’S GIRL”, hanya
saja nama itu diselewengkan oleh mayoritas penghuni sekolah menjadi “P-E-N-!-S
GIRL” karena kelakuan mereka yang tak senonoh. “hihii” anjun malah mesem lagi.
“jangan-jangan beneran...” kata novan dengan tatapan
menyelidik.
Anjun mengangkat tangannya, siap sedia mengeluarkan jurus
andalannya. ‘gua gampar lu’.
“iya-iya njun ampun. Lanjutin dah” novan mengiba.
“ehm..ehm..” anjun meraba lehernya, bersiap untuk pidato.
“lu bertiga masih inget ...”
“iya..iya.. gue inget” cerocos indy sembari tangannya masih
tak henti-hentinya menyuapkan makanan kemulut. “kemaren si silvi kesedak roti
yang didalemnya gue taroh laler ijo, huuahaahhaakkk...” tiba-tiba indy roboh,
ketawa sambil berkelojotan di lantai.
Entah karena apa dia terobsesi niru-niru tingkah silvi kemaren, bedanya kalo
silvi kesedak roti isi laler ijo sedang indy kesedak pentol segede bola kingkong.
“t---o---l---o---n---g---i---n---m---i---n---u---m---“ tangannya memegang
kerongkongan sedang matanya mendelik-mendelik menakutkan.
Aku sama novan ketawa sampe perut mules plus air mata
bercucuran, sedang anjun dengan sigap memberi pertolongan pertama. Dengan
tangan mungilnya dia getok kepala indy persis kaya menggetok balok pas karate,
setelah itu ia ambil gayung yang isinya penuh air dan ajaibnya setelah isi
gayung itu ludes indy sudah sehat dan ketawa-ketiwi seperti sedia kala.
Bener-bener gile itu anak. Sebagaimana aku, pastinya sodarah-sodarah juga
bertanya-tanya kemana perginya air dan pentol segede kingkong tadi? Kalo
jawabnya perut pasti anda sekalian akan ragu ketika melihat sendiri indy
melanjutkan makannya dengan semangat seperti orang kelaparan.
“lanjut gak nih?” tanya anjun kembali ke topik. Serius.
“lanjoot..” kami bertiga kompak.
“lu masih inget pengalaman kesasar di gua jepang?”
Langung kami serasa terbang ke alam lain.
“ahh.. inget..inget.. gara-gara kecerobohan tikus resek nih“
novan menunjuk indy, yang ditunjuk cengar-cengir saja.
Emang tuh pengalaman ngeri banget, berawal dari keisengan
indy yang pengen ngumpulin tai kampret untuk ngerjain pak bodhy, guru
matematika super duper galaknya minta ampun, khususnya sama indy.
“nah terus-terus.. inget apa lagi?” pancing anjun.
“gue inget. Karena kelaparan Indy makan gumpalan tanah
bercampur fermentasi tai kampret yang dia kira buah sawo” kata-kataku disambut
dengan geplakan keras di otak bagian belakang.
Kontak anjun dan novan terbahak, sedang indy merengut.
“ya ya itu termasuk bagian dari cerita. Tapi bukan itu yang
kumaksudkan. Coba deh kalian inget-inget lagi”
“apa ya?”
Kami bertiga mikir keras, tapi sepertinya percuma saja, karena
semakin keras kami mikir otak kami amburadul gak karuan.
“ahh kalian bertiga sama aja” cibir anjun.
“apaan sih njun? Ahhh bikin penasaran aja?” indy merengek.
“to the point aja lha njun..” nova membujuk.
“...” aku melongo dengan pandangan lurus menembus punggung
indy. Sesuatu telah menotok mataku.
“ahh.. gak seru.. gak surprise kalo diomongin langsung”
sergah anjun.
“lu ngliatin apaan sih?” novan menyilangkan tangannya
kemataku yang tak berkedip. “halahhh pantess..” begitu dia tau objek yang
menyilaukan mataku.
“apaan sih?” indy dan anjun ikutan penasaran.
“lu berdua, tepat arah jam dua belas”
Serentak mereka berdua memalingkan pandangan. “hmm...” indy
dan anjun berbarengan.
“ udah jangan ganggu orgil yang satu ini” kata indy.
Ya betul. Apanya yang betul? Tepat arah jam tiga dari sisi
novan, lewatlah ellena-sang singa betina yang anggun-yang berjalan bagai dewi
kwan im turun dari singsana teratai putihnya. Tiba-tiba senandung lagu titanic
mengantar ellena yang sedang mencari tempat duduk. Entah sengaja atau tidak
duduknya tepat menghadap kearahku. Cinta pertama emang sialan. Tapi sayangnya tepat
disamping ellena ada seekor monyet meraung-raung mencari perhatian sang dewi
yang merusak pemandangan.
“waduh itu ketua OSIS ngekor terus dari kemaren” novan
menggeleng kepala.
Anjun dan indy juga geleng kepala, bedanyanya mereka
menggelengkan kepala untukku. Mereka melihatku seperti melihat setan yang
kepingin naik ke syurga, sedang didalam batin mereka bertanya-tanya adakah
punguk menjadi astronot?
“ndy keluarin ajian lu. Kalo dibiarin lama-lama kasian yang
diliatin” novan mengulurkan simpati ketanganku dan segelas air putih putih
ketangan indy.
“byuuuuhhhh...!!” keluarlah ajian abab pembunuh jiwa. Bagai
semburan air dari selang pemadam kebakaran, semburan dari mulut indy
menyadarkanku dari kebakaran jiwa. Aku gelagapan ketika kembali kedunia nyata.
“udah bangun belum lu?” tanya novan.
“hahh...hahhh.. udah man udah” aku mengusap mukaku. “tarimo
kasih”
Novan dan indy mengangguk-angguk seperti dukun yang baru
saja menyembuhkan pasiennya dari kerasukan setan.
“gimana lanjut gak nih?” anjun mengambil giliran.
Diam sejenak.
“lanjut..” kami bertiga kompak.
“jadi gimana kalian inget gak? Coba diinget-inget lagi, apa
yang kita lakukan setelah kita kesasar waktu itu”
“itu maksudnya sewaktu kita udah selamet?” tanyaku.
Anjun mengangguk pelan.
“ahh.. maksudmu kita bikin tulisan catatan kesasar itu”
kataku lagi.
“nahh.. pinter” anjun menjambak-jambak rambutku dengan
semangat.
“please njun.. aku udah keluar duit banyak buat mandi pake
elips biar nih rambut lebat, jangan lu rontokin lagi” aku mengibas-ngibas
rambutku.
“ehhehehe maaf”
“jadi gimana cerita selanjutnya?” giliran novan yang tanya.
“jadi singkat cerita tulisan yang kita bikin kemaren gue
kumpulin lalu gue kirim ke departemen pemuda dan olahraga karena kebetulan gue
dapet ni” anjun nyerahin sebuah kertas pengumuman dari departemen pemuda dan
olahraga tentang festival anak muda yang salah satunya ada lomba menulis. “Dan
lu tau apa yang terjadi selanjutnya?”
Tiba-tiba suasana jadi tegang banget. Kami menunggu dengan
antusias setiap kalimat berikutnya yang bakal muncul dari mulut anjun.
“taraaa..” anjun mengeluarkan sebuah amplop coklat yang
bersegel dari departemen pemuda dan olahraga. “tulisan kita masuk nominasi dan kita
bakal ikutan di writing camp di bali maaannn!!!”
“heh! Beneran lu?!” tanya kami kompak.
“sumpah”
“swear?” novan masih gak percaya.
“yaelah ngapain gue ngeboongin kalian”
“lu gak nyogok menteri pemuda dan olahraga kan?” tanyaku
yang langsung disambut tonjokan maut oleh anjun.
“yeeaaaaayyyy!!!!” kami bersorak bersama.
Ahhh.. kawan andai kalian tau indahnya persahabatan.

0 komentar:
Posting Komentar