Selasa, 28 Juli 2015



Andai kita satu SMA

“haahhh kutu kupret!!” indy mengumbar kata-kata favoritnya, super kasar sekasar wajahnya yang penuh jerawat. Dengan muka bersungut-sungut dia berjalan penuh emosi disepanjang lorong kelas satu, apapun yang ada didepannya pasti dia tendang.

“udah dong ndy itu kan masalah kecil, lu jangan kebawa emosi gitu. Ntar kalo lu gak mood bisa berabe babe gue” novan mengelus indy dengan gaya bijak mahatma gandhi, maklum minggu lalu dia baru pentas teater yang berperan sebagai  kacungnya mahatma gandi.

Indy melirik tajam. “masalah kecil gimana? Yang bener aja! Lu kan tadi liat sendiri pas si kuntilanak-santi- ngemanfaatin kesempatan dalam kesempitan nendang pantat gue ampe gue hampir aja nubruk randy“ muka indi menampakkan semburat merah ketka dia menyebut nama randy.

“itu mah gampang penyelesaiannya” kataku sok tau.

“gimana?”

“lu ambil tank topnya waktu olahraga, lu kasih ke indra -cowok yang masuk nominasi cowok paling jelek dan gak tau diri-, biar dipelet sama dia, dijamin dia gak bakalan ganggu lu lagi“ jawabku datar.

“huahahaa betul juga lu!” indi tertawa puas. Entah apa yang membuatnya puas, aku sendiri gak tau kenapa juga ngasih ide kaya gitu. Lalu dia menatap novan. “trus apa tadi kata lu? Apa hubungannya gue gak mood ama babe lu?” Sebuah pertanyaan yang mewakili penasaran segenap para pembaca.

Novan tepuk jidat. “lu pikir dah, kalo lu bete, apa obatnya?” tanya novan mengulum senyum.

Aku mau ikutan nebak, tapi novan mengerdikkan alisnya. Lu gak usah ikut-ikutan jawab kampret!

“apa? emang apa?” indy terpancing penasaran.

“masak lu gak paham ama diri lu sendiri?” sindir novan.

“apa si?” kening indy berkerut, tanda ia sedang memaksakan otaknya untuk berfikir. “ahhh gue tau!”

“apa?” tanyaku sama novan barengan.

“makan” jawab indy kegirangan.

“exactly” kataku.

“kalo gitu yuk sekarang makan!” ajak indy semangat.

Gantian novan yang pasang muka melas. “aje gile, tau gini gue gak jadi dah ngasih tu tebakan”

Terus apa hubungannya indy yang suka makan pas ngambek sama marahnya babenya novan? Begini kisahnya.

“pak pesen biasa” itu adalah kalimat indy ketika dia pesen dikantin pada tanggal-tanggal muda. But, jangan salah artikan kata ‘biasa’ disini karena ‘biasa’ menurut indy dan menurut kebanyakan orang dalam hal makan memakan adalah sesuatu yang jauh berbeda. Kata-kata ‘biasa’ itu meliputi hampir seluruh daftar menu makanan yang tersedia dan pada akhirnya, sambil memandang acuh “pak ntar dia ni yang bayar” tanpa dosa telunjuknya nunjuk muka novan yang celingukan kaya monyet nyari pisang. Kemudian bapak-bapak itu sambil melototi novan akan bilang, “uang saku lu gua potong bulan ini”. Siapakah bapak-bapak itu? tidak lain dialah babenya novan.

“ahhaa.. tuh anjun dateng. Njuuunnn! baeibyyy...” indy buru-buru menjemput anjun -cewek paling normal yang berada dikomplotan ini- dengan pelukan manjanya. “lu dari tadi kemana aja sih? kita cariin gak keliatan sama sekali. pasti lu sibuk ngegebet si Zul ya? Tega lu, gak ngerti apa temen lagi susah gini” rengek indy sembari melanjutkan lagi melahap menu ‘biasa’nya yang memenuhi meja.

“ahh zul mah lewat, gak penting. Ada yang lebih menarik” Anjun senyam-senyum. “ eh tebak deh.. gue barusan dari kantor kepsek” ujarnya girang.

“hah? Ngapain lu di kantor kepsek?” tanya kami bertiga. Tentu saja kami kaget, halo komplotan kami adalah komplotan yang terang-terangan menyatakan sikap kontra terhadap progam-progam kepsek. Ya emang gak semua kami kontra, tapi kebanyakan iya. Salah satu contoh paling menonjol adalah ketika sekolah mengagendakan progam studi tour pada akhir semester kemaren, ya karena kamilah acara itu gagal total.

“lu gak nyogok buat lulus ujian kan?” tanya novan yang kemudian dihadiahi sebuah jitakan manis yang akibatnya amat menyakitkan didengar telinga.

Setelah puas njitaki novan, anjun mesam-mesem lagi.

“hhaaah?” mulutku menganga lebar.

“kenapa lu?” tanya indy sambil nyiram air kemulutku. Dasar Indy tengil!

“lu gak nembak kepsek kan?” tanyaku dengan mata polos. berselang satu atau dua detik saja meluncur bagai kilat suatu daya yang mengungkit tubuhku, sekali ungkit akupun melayang untuk beberapa ke udara beberapa detik. “Njun lu T-O-P B-G-T D-A-H-!”

Tentu saja aksiku mengundang mata penasaran anak-anak yang juga lagi ngumpul dikantin, tapi mereka sudah maklum dengan semua tingkah dan kegilaan kami. Mereka sudah bosan dengan semua hal aneh menyangkut komplotan kami.

“lu apaan sih? jangan ngawur gitu ah” anjun berlagak membersihkan bajunya yang tak kotor. ‘Gue B-E-R-S-I-H man’. Matanya melirik rombongan cewek pesolek yang disebut-sebut sebagai gank “PEN’S GIRL”, hanya saja nama itu diselewengkan oleh mayoritas penghuni sekolah menjadi “P-E-N-!-S GIRL” karena kelakuan mereka yang tak senonoh. “hihii” anjun malah mesem lagi.

“jangan-jangan beneran...” kata novan dengan tatapan menyelidik.

Anjun mengangkat tangannya, siap sedia mengeluarkan jurus andalannya. ‘gua gampar lu’.

“iya-iya njun ampun. Lanjutin dah” novan mengiba.

“ehm..ehm..” anjun meraba lehernya, bersiap untuk pidato. “lu bertiga masih inget ...”

“iya..iya.. gue inget” cerocos indy sembari tangannya masih tak henti-hentinya menyuapkan makanan kemulut. “kemaren si silvi kesedak roti yang didalemnya gue taroh laler ijo, huuahaahhaakkk...” tiba-tiba indy roboh, ketawa sambil  berkelojotan di lantai. Entah karena apa dia terobsesi niru-niru tingkah silvi kemaren, bedanya kalo silvi kesedak roti isi laler ijo sedang indy kesedak pentol segede bola kingkong. “t---o---l---o---n---g---i---n---m---i---n---u---m---“ tangannya memegang kerongkongan sedang matanya mendelik-mendelik menakutkan.

Aku sama novan ketawa sampe perut mules plus air mata bercucuran, sedang anjun dengan sigap memberi pertolongan pertama. Dengan tangan mungilnya dia getok kepala indy persis kaya menggetok balok pas karate, setelah itu ia ambil gayung yang isinya penuh air dan ajaibnya setelah isi gayung itu ludes indy sudah sehat dan ketawa-ketiwi seperti sedia kala. Bener-bener gile itu anak. Sebagaimana aku, pastinya sodarah-sodarah juga bertanya-tanya kemana perginya air dan pentol segede kingkong tadi? Kalo jawabnya perut pasti anda sekalian akan ragu ketika melihat sendiri indy melanjutkan makannya dengan semangat seperti orang kelaparan.

“lanjut gak nih?” tanya anjun kembali ke topik. Serius.

“lanjoot..” kami bertiga kompak.

“lu masih inget pengalaman kesasar di gua jepang?”

Langung kami serasa terbang ke alam lain.

“ahh.. inget..inget.. gara-gara kecerobohan tikus resek nih“ novan menunjuk indy, yang ditunjuk cengar-cengir saja.

Emang tuh pengalaman ngeri banget, berawal dari keisengan indy yang pengen ngumpulin tai kampret untuk ngerjain pak bodhy, guru matematika super duper galaknya minta ampun, khususnya sama indy.

“nah terus-terus.. inget apa lagi?” pancing anjun.

“gue inget. Karena kelaparan Indy makan gumpalan tanah bercampur fermentasi tai kampret yang dia kira buah sawo” kata-kataku disambut dengan geplakan keras di otak bagian belakang.

Kontak anjun dan novan terbahak, sedang indy merengut.

“ya ya itu termasuk bagian dari cerita. Tapi bukan itu yang kumaksudkan. Coba deh kalian inget-inget lagi”

“apa ya?”

Kami bertiga mikir keras, tapi sepertinya percuma saja, karena semakin keras kami mikir otak kami amburadul gak karuan.

“ahh kalian bertiga sama aja” cibir anjun.

“apaan sih njun? Ahhh bikin penasaran aja?” indy merengek.

“to the point aja lha njun..” nova membujuk.

“...” aku melongo dengan pandangan lurus menembus punggung indy. Sesuatu telah menotok mataku.

“ahh.. gak seru.. gak surprise kalo diomongin langsung” sergah anjun.

“lu ngliatin apaan sih?” novan menyilangkan tangannya kemataku yang tak berkedip. “halahhh pantess..” begitu dia tau objek yang menyilaukan mataku.

“apaan sih?” indy dan anjun ikutan penasaran.

“lu berdua, tepat arah jam dua belas”

Serentak mereka berdua memalingkan pandangan. “hmm...” indy dan anjun berbarengan.

“ udah jangan ganggu orgil yang satu ini” kata indy.

Ya betul. Apanya yang betul? Tepat arah jam tiga dari sisi novan, lewatlah ellena-sang singa betina yang anggun-yang berjalan bagai dewi kwan im turun dari singsana teratai putihnya. Tiba-tiba senandung lagu titanic mengantar ellena yang sedang mencari tempat duduk. Entah sengaja atau tidak duduknya tepat menghadap kearahku. Cinta pertama emang sialan. Tapi sayangnya tepat disamping ellena ada seekor monyet meraung-raung mencari perhatian sang dewi yang merusak pemandangan.

“waduh itu ketua OSIS ngekor terus dari kemaren” novan menggeleng kepala.

Anjun dan indy juga geleng kepala, bedanyanya mereka menggelengkan kepala untukku. Mereka melihatku seperti melihat setan yang kepingin naik ke syurga, sedang didalam batin mereka bertanya-tanya adakah punguk menjadi astronot?

“ndy keluarin ajian lu. Kalo dibiarin lama-lama kasian yang diliatin” novan mengulurkan simpati ketanganku dan segelas air putih putih ketangan indy.

“byuuuuhhhh...!!” keluarlah ajian abab pembunuh jiwa. Bagai semburan air dari selang pemadam kebakaran, semburan dari mulut indy menyadarkanku dari kebakaran jiwa. Aku gelagapan ketika kembali kedunia nyata.

“udah bangun belum lu?” tanya novan.

“hahh...hahhh.. udah man udah” aku mengusap mukaku. “tarimo kasih”

Novan dan indy mengangguk-angguk seperti dukun yang baru saja menyembuhkan pasiennya dari kerasukan setan.

“gimana lanjut gak nih?” anjun mengambil giliran.

Diam sejenak.

“lanjut..” kami bertiga kompak.

“jadi gimana kalian inget gak? Coba diinget-inget lagi, apa yang kita lakukan setelah kita kesasar waktu itu”

“itu maksudnya sewaktu kita udah selamet?” tanyaku.

Anjun mengangguk pelan.

“ahh.. maksudmu kita bikin tulisan catatan kesasar itu” kataku lagi.

“nahh.. pinter” anjun menjambak-jambak rambutku dengan semangat.

“please njun.. aku udah keluar duit banyak buat mandi pake elips biar nih rambut lebat, jangan lu rontokin lagi” aku mengibas-ngibas rambutku.

“ehhehehe maaf”

“jadi gimana cerita selanjutnya?” giliran novan yang tanya.

“jadi singkat cerita tulisan yang kita bikin kemaren gue kumpulin lalu gue kirim ke departemen pemuda dan olahraga karena kebetulan gue dapet ni” anjun nyerahin sebuah kertas pengumuman dari departemen pemuda dan olahraga tentang festival anak muda yang salah satunya ada lomba menulis. “Dan lu tau apa yang terjadi selanjutnya?”

Tiba-tiba suasana jadi tegang banget. Kami menunggu dengan antusias setiap kalimat berikutnya yang bakal muncul dari mulut anjun.

“taraaa..” anjun mengeluarkan sebuah amplop coklat yang bersegel dari departemen pemuda dan olahraga. “tulisan kita masuk nominasi dan kita bakal ikutan di writing camp di bali maaannn!!!”

“heh! Beneran lu?!” tanya kami kompak.

“sumpah”

“swear?” novan masih gak percaya.

“yaelah ngapain gue ngeboongin kalian”

“lu gak nyogok menteri pemuda dan olahraga kan?” tanyaku yang langsung disambut tonjokan maut oleh anjun.

“yeeaaaaayyyy!!!!” kami bersorak bersama.

Ahhh.. kawan andai kalian tau indahnya persahabatan.

  
Image result for sahabat


Senin, 20 Juli 2015

kembali ke joe

hari itu aku ketemu lagi sama joe. dia ini teman karib di bangku kuliah. tapi dia bukan teman kuliah, hanya teman ketemu dijalan. itu saat masih sore, belum begitu gelap. joe yang sudah sekian lama menghilang tiba-tiba muncul secara ajaib dipojokan taman alun-alun kota. herannya nih, heran banget. sebelum-sebelumnya aku belum pernah sekalipun menginjak taman alun-alun kota, jangankan pergi kesana, tertarik aja nggak. apa sebab? itu taman nggak banget. spotnya gak enak dihati, lay outnya ancur apalagi penampilannya, ngingetin sama nenek-nenek gila disebelah rumah. tapi sore itu kisah berkata lain. gak tau kenapa aku yang biasanya gak pernah mau nganterin kakak ipar pasar malah setuju untuk nganter, alhasil seperti yang sudah diduga, dasar si kaka ipar itu miss shopping, kalo shopping lama plus senengnya muter-muter pasar ampe 5 kali kalo belum lima kali kayanya belum puas.

daripada bosen akhirnya aku jalan-jalan aja. mau ngikut ogah, daripada kaki bengkak. saat itulah angin membawa langkah kakiku menuju ke taman di pojokan alun-alun. sebenarnya gak tau kenapa bisa kesana padahal ada banyak pilihan kalo mau sekedar menghindari rasa bosan, bisa ke warnet (pilihan favorit), bisa ke warung, bisa ke masjid, atau bisa ke rental PS. tapi kaki ini memilih ke taman ancur itu.

mulanya aku gak liat joe. karena dia duduk diantara bunga pucuk merah yang rimbun, lagipula dia memunggungiku. tapi intuisiku berkata lain, dia berkata ada sesuatu yang menungguku disana, aura tempat itu menjadi berbeda sekali dengan tempat manapun yang pernah kudatangi. ada semacam tekanan yang menggencet batin, jika anda bisa mengerti, tapi kukira semua orag pasti pernah merasakannya. jika anda pernah merasakan hawa yang aneh atau perasaan yang aneh ditempat angker, nah kira-kira seperti itulah yang aku rasakan, tapi maaf si joe ini bukan jin.

walaupun rasa was-was menghinggapiku, kakiku mengabaikannya dia terus melangkah sampai akhirnya mataku menangkap punggung itu, punggung yang telah lama kulupa. di duduk tenang seperti biasa, bersideku menatap jalan. ada rasa yang aneh didadaku ketika aku yakin bahwa itu si joe. tiba-tiba munul perasaan takut dan senang sekaligus, belum lagi beribu pertanyaan dan penyataan didalam pikiran. sepertinya aku lebay, oh bukan, bukannya aku lebay, aku juga bukan homo, jika anda pernah merasakan kerinduan yang sangat, kemudian anda bertemu dengan sesuatu yang anda rindukan, mungkin bisa menjadi gambaran.

sekian menit aku terdiam dalam nafas. hanya menatap punggung joe tanpa berani menyapanya. berharap dialah yang menoleh lalu menyapaku. tapi sepertinya hal seperti itu takkan pernah terjadi, seperti pertemuan kami kali pertama, dan pertemuan-pertemua selanjutnya, akulah yang menjadi tuas takdir jalinan kisah diantara kami.

dan akhirnya..

"joe.. kamu kok bisa disini?"

joe menoleh, senyum terpatri di bibirnya. "hanya kebetulan." jawaban yang seperti biasa ia berikan. hanya kebetulan saudara-saudara. kebetulan itu menjadi kata yang ambigu didalam kamusku.

aku memandang joe dan begitupun joe. aku duduk disebelahnya. "mau minum?" tawarku. aku menyodorkan minuman susu kotakan milik ponakan. dan dengan ringan tangan joe menerimannya. "sudah lama banget kita gak ketemu ya?"

joe tersenyum. "iya. udah berapa tahun ya?"

"berapa ya?" aku menggaruk dahi yang tak gatal. "lama lah pokoknya. tapi kamu kok bisa tau aku ada disini?" kutepuk bahu joe. sebenarnya aku tegang sekali.

joe memegang kotak susu formula itu erat. "kebetulan saja." matanya melirik kanan dan kiri. "tuh bus yang kutumpangi lagi mogok." dia menunjuk sebuah mini bus yang lagi di dongkrak.

aku memandang joe. antara percaya dan tidak, tapi setahuku joe tak pernah bohong. jadi aku menelan ludah untuk satu kebetulan ini.

"emang kamu mau kemana joe?"

"yah seperti biasa."

aku mangut-mangut walaupun bingung, karena seperti biasa ini berarti dia lagi mengikuti arah angin. dari dulu dia memang seperti itu.

tiba-tiba sebuah minibus datang. orang-orang yang berserakan disekitar bus yang mogok pada masuk ke bus itu. joe berdiri. "aku harus pergi." katanya. aku hanya termangu menatapnya. ini sebuah pertemuan yang singkat seperti biasanya. dari kantong jaketnya dia mengeluarkan sebuah kaleng minuman.

"ini menjelang musim panas." katanya sambil menyerahkan minuman kaleng itu. joe pergi lagi seperti biasa, tanpa salam perpisahan tanpa beban. aku menatap kepergian minibus yang membawa dengan tatapan hampa, sekosong hati dan nanarnya pikiran. ketika minibus itu telah menghilang dari pandanganku, kutatap kaleng pemberian joe. kaleng bergambar beruang.