kembali ke joe
hari itu aku ketemu lagi sama joe. dia ini teman karib di bangku kuliah. tapi dia bukan teman kuliah, hanya teman ketemu dijalan. itu saat masih sore, belum begitu gelap. joe yang sudah sekian lama menghilang tiba-tiba muncul secara ajaib dipojokan taman alun-alun kota. herannya nih, heran banget. sebelum-sebelumnya aku belum pernah sekalipun menginjak taman alun-alun kota, jangankan pergi kesana, tertarik aja nggak. apa sebab? itu taman nggak banget. spotnya gak enak dihati, lay outnya ancur apalagi penampilannya, ngingetin sama nenek-nenek gila disebelah rumah. tapi sore itu kisah berkata lain. gak tau kenapa aku yang biasanya gak pernah mau nganterin kakak ipar pasar malah setuju untuk nganter, alhasil seperti yang sudah diduga, dasar si kaka ipar itu miss shopping, kalo shopping lama plus senengnya muter-muter pasar ampe 5 kali kalo belum lima kali kayanya belum puas.
daripada bosen akhirnya aku jalan-jalan aja. mau ngikut ogah, daripada kaki bengkak. saat itulah angin membawa langkah kakiku menuju ke taman di pojokan alun-alun. sebenarnya gak tau kenapa bisa kesana padahal ada banyak pilihan kalo mau sekedar menghindari rasa bosan, bisa ke warnet (pilihan favorit), bisa ke warung, bisa ke masjid, atau bisa ke rental PS. tapi kaki ini memilih ke taman ancur itu.
mulanya aku gak liat joe. karena dia duduk diantara bunga pucuk merah yang rimbun, lagipula dia memunggungiku. tapi intuisiku berkata lain, dia berkata ada sesuatu yang menungguku disana, aura tempat itu menjadi berbeda sekali dengan tempat manapun yang pernah kudatangi. ada semacam tekanan yang menggencet batin, jika anda bisa mengerti, tapi kukira semua orag pasti pernah merasakannya. jika anda pernah merasakan hawa yang aneh atau perasaan yang aneh ditempat angker, nah kira-kira seperti itulah yang aku rasakan, tapi maaf si joe ini bukan jin.
walaupun rasa was-was menghinggapiku, kakiku mengabaikannya dia terus melangkah sampai akhirnya mataku menangkap punggung itu, punggung yang telah lama kulupa. di duduk tenang seperti biasa, bersideku menatap jalan. ada rasa yang aneh didadaku ketika aku yakin bahwa itu si joe. tiba-tiba munul perasaan takut dan senang sekaligus, belum lagi beribu pertanyaan dan penyataan didalam pikiran. sepertinya aku lebay, oh bukan, bukannya aku lebay, aku juga bukan homo, jika anda pernah merasakan kerinduan yang sangat, kemudian anda bertemu dengan sesuatu yang anda rindukan, mungkin bisa menjadi gambaran.
sekian menit aku terdiam dalam nafas. hanya menatap punggung joe tanpa berani menyapanya. berharap dialah yang menoleh lalu menyapaku. tapi sepertinya hal seperti itu takkan pernah terjadi, seperti pertemuan kami kali pertama, dan pertemuan-pertemua selanjutnya, akulah yang menjadi tuas takdir jalinan kisah diantara kami.
dan akhirnya..
"joe.. kamu kok bisa disini?"
joe menoleh, senyum terpatri di bibirnya. "hanya kebetulan." jawaban yang seperti biasa ia berikan. hanya kebetulan saudara-saudara. kebetulan itu menjadi kata yang ambigu didalam kamusku.
aku memandang joe dan begitupun joe. aku duduk disebelahnya. "mau minum?" tawarku. aku menyodorkan minuman susu kotakan milik ponakan. dan dengan ringan tangan joe menerimannya. "sudah lama banget kita gak ketemu ya?"
joe tersenyum. "iya. udah berapa tahun ya?"
"berapa ya?" aku menggaruk dahi yang tak gatal. "lama lah pokoknya. tapi kamu kok bisa tau aku ada disini?" kutepuk bahu joe. sebenarnya aku tegang sekali.
joe memegang kotak susu formula itu erat. "kebetulan saja." matanya melirik kanan dan kiri. "tuh bus yang kutumpangi lagi mogok." dia menunjuk sebuah mini bus yang lagi di dongkrak.
aku memandang joe. antara percaya dan tidak, tapi setahuku joe tak pernah bohong. jadi aku menelan ludah untuk satu kebetulan ini.
"emang kamu mau kemana joe?"
"yah seperti biasa."
aku mangut-mangut walaupun bingung, karena seperti biasa ini berarti dia lagi mengikuti arah angin. dari dulu dia memang seperti itu.
tiba-tiba sebuah minibus datang. orang-orang yang berserakan disekitar bus yang mogok pada masuk ke bus itu. joe berdiri. "aku harus pergi." katanya. aku hanya termangu menatapnya. ini sebuah pertemuan yang singkat seperti biasanya. dari kantong jaketnya dia mengeluarkan sebuah kaleng minuman.
"ini menjelang musim panas." katanya sambil menyerahkan minuman kaleng itu. joe pergi lagi seperti biasa, tanpa salam perpisahan tanpa beban. aku menatap kepergian minibus yang membawa dengan tatapan hampa, sekosong hati dan nanarnya pikiran. ketika minibus itu telah menghilang dari pandanganku, kutatap kaleng pemberian joe. kaleng bergambar beruang.

0 komentar:
Posting Komentar