
Aku sibuk mengaduk-aduk adonan ketika Anna berteriak kegirangan setelah membaca SMS yang memberitahukan bahwa proyek yang ia tawarkan kepada salah satu organisasi kemasyarakatan lokal goal. Sambil berlonjak-lonjak senang Dia datang kepadaku memperlihatkan SMS yang diterimanya.
“Gimana benerkan? Pasti goal” Ujarnya riang seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah mainan. “Kan udah Anna mintain sama Allah, hehe..” Nyengir.
“Alhamdu..” Ucapku yang dengan sengaja tak kuselesaikan. Sebuah habbit untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
“Lillaaahh...” Anna melanjutkan dengan semangat. “Tinggal eksekusi progamnya. Ntar minta bantuannya ya?”
“Siap Permaisuri. Hamba akan melayani dengan senang hati” Kelakarku. Aku berhenti sejenak mengaduk adonan, berdiri, lalu kubungkukkan badan sambil meletakkan tangan didada ala bangsawan eropa. “Insyaallah”
“Hehe.. makasih.. Ayank baik bangeet..” Anna tertawa senang. Sekilas taring kucing tunggalnya terlihat putih bersinar saat ia tertawa, hal paling kusuka ketika melihatnya tawanya. “Gimana adonannya? Dah jadi? Boleh icip-icip gak?” Tangan kecilnya siap menyerobot dipinggiran wajan, mencari kesempatan mencuil barang sedulit dua dulit adonan yang sedang dalam proses.
“Eitts..” Kutepis tangan Anna. Lalu dengan isyarat telunjuk aku melarangnya. “No..no..no..” Mimikku serius. “Adonannya belum jadi dan belum boleh diicip-icip. nanti kalo da cukup matang, ok!” Aku terus mengaduk sambil sesekali memerhatikan api dari kayu bakar agar tidak kegedean atau mati. Anna mengangguk nurut sambil melihatku seperti anak kucing yang ingin dibelai manja majikannya. Ceritanya Kami sedang bereksperimen resep produk olahan makanan yang Insyaallah akan menjadi basis usaha keluarga.
“Mas belajar masak dimana sih? kok masak apa aja bisa, makanan ringan, makanan berat, dan makanan aneh-aneh kaya kemaren. Kayaknya gampang banget gitu liat Mas masak, jadi ngiri” Anna manyun melihat tanganku yang sedang mengaduk-aduk adonan, lalu air mukanya berubah serius, seolah-olah sedang mempelajari sesuatu dari itu. Sesekali Ia membantu memisahkan beberapa adonan yang gosong karena kelalaianku dalam mengaduk.
“Mau tau?” Tanyaku. Anna mengangguk. “Bener mau tau?” Kunaikkan intonasinya. Anna mengangguk lagi. “Beneran mau tau?” Kunaikkan lagi intonasinya satu tingkat. Anna mengangguk gak sabar. “Mau tau aja atau mau tau banget?” Tanyaku lembut berbisik ke telinga Anna yang kemudian membuatnya merajuk manja.
“Ahh.. Mas ihh..” Rajuk Anna sambil mencubiti bahuku.
“Jawabannya adalahhh... deng..deng..” Aku bergaya seperti di acara kuis-kuis. “Pergi ke Mbah google, hehee..”
“Mbah google? Siapa mbah google? Emang ada orang yang namanya kaya gitu? Kok kaya nama apa gitu diinternet”
“Hahahaa.. makanya Ayank..” Kucubit pipi Anna dengan gemas. “Jadi orang tu jangan gaptek. Mbah google tu ya emang internet, lebih tepatnya mesin searching buat surfing” Aku ngakak gak abis-abis melihat kepolosan Istriku. Harap maklum sodara-sodara, Istriku ini emang kurang familiar dengan internet. Aku juga heran Kok bisa-bisanya ada anak abad 20 model gitu.
Merasa dijadiin bahan tertawaan Anna semakin cemberut, sambil buang muka bibirnya meruncing menggumamkan kata-kata “kalo emang gak mau beritahu gak usah menghina”
“Hehe.. maap..maap.. gak ketawa lagi deh. Ntar tak ajarin gimana caranya biar pinter masak dengan bantuan mbah google” Janjiku.
“Beneran ya?” Anna menatapku tajam.
“Siap” Aku hormat dengan penuh semangat.
Beberapa menit keheningan menyapa kami. Aku sibuk mengaduk-aduk adonan sedangkan Anna sibuk menjaga kestabilan api.
“Emm.. Ayank.. sebenarnya ada satu hal yang sampai saat ini membuatku penasaran banget” Aku membuka suara memulai sebuah topik baru.
“Apa?” Anna masih sibuk memasukkan kayu sengon kering kedalam perapian.
Sejenak aku ragu akan pertanyaanku, tapi kupikir sejenak, justru perasaan yang seperti yang harus dihilangkan dalam sebuah kehidupan rumah tangga. “Kenapa sih Ayank dulu bisa yakin banget sama Mas pas nantang merit. Emang apa alasannya? Ayank kenal Mas ja juga baru sebentar banget. Seingat Mas kita baru komunikasi tu setelah ada tugas kelompok campuran dari Pak Sudi, gak lebih dari 3 bulan tho”
“Kan Allah yang ngasih keyakinan” Jawab Anna diplomatis.
“Yee.. kalo itu mah Mas juga tau. Tapi Mas merasa pasti ada alasan lain yang melatarbelakangi semuanya. Nah apa itu?” Korekku.
Anna malah tersenyum malu tapi mau.
“Kan kayaknya aneh aja, ada seorang wanita mendatangi seorang pria, ngajak merit tanpa ia mengenalnya dengan seksama terlebih dahulu, atau paling gak ada yang merekomendasikan, tapi setau mas proses kita itu kan gak ada perantaranya”
“Hehee.. siapa bilang Anna gak tau Mas, Mas aja yang gak tau Anna” Ucap Anna ringan.
Aku menelan ludah dan nyengir mendengar ucapan Anna. “Maksudnya? Coba dijelasin lebih detil”
“Yang jelas sudah pasti Anna ta’rif dulu tentang Mas mengenai hal-hal yang sudah Anna tentukan sebelum bulat mengambil keputusan itu. Bagaimanapun pernikahan dan rumah tangga bukanlah perkara main-main atau sekedarnya saja. Anna paham betul hal itu” Jelas Anna dengan ekspresi serius. Hilang sudah penampakan imut-imut dan jiwa kekakanannya jika dalam keadaan seperti itu. “Tapi sebenernya semua info tentang Mas justru Anna dapet secara gak langsung”
Ini perempuan emang gak terduga sama sekali. “Secara gak langsung gimana maksudnya?” Aku semakin penasaran.
“Hehee..” Anna malah cengengesan.
Aku menggelengkan kepala. Ternyata istriku jauh lebih menakutkan daripada yang terlihat.
“Anna tu tau Mas sebagian dari pengamatan Anna sendiri ketika komunikasi sama Mas, sedangkan sebagiannya lagi dari temen-temen ketika mereka gosipin Mas”
Alisku terangkat. Kaget. “He? Dari temen-temen? Gosip? Maksudnya?”
“Tau gak sih? dulu tu Mas sering digosipin sama temen-temen akhwat diasrama, terutama setelah even KKL. Anna emang gak ikut secara langsung sih tapi kena efek suaranya”
“Kena efek suara apa ikutan ngegosip?” Cibirku.
“Anna gak ikut nimbrung Mas, beneran, tapi emang suara temen-temen tu kedengeran sampai kamar Anna” Dalih Anna.
“Oke..okelah. Lupakan hal itu. Lanjut..” Aku memilih tidak banyak berdebat kusir dengan Anna karena aku sudah tidak sabar mendengar yang selanjutnya. “Siapa aja yang gosipin?” tanyaku lagi dengan naluri membara.
“Mm.. siapa aja ya.. Teh Aisy, Mbak Nira, Mbak Vivi, Mbak Ini, Mbak Itu.. bla..bla..bla..” Suara Anna terdengar seperti dengungan lebah ditelingaku. Tak terduga. Siapa yang sangka para akhwat yang dari luar tampak pendiam, menjaga diri, dan kelihatan anggun itu ternyata seneng ngegosip juga. Aku menggelengkan kepalaku. Bagaimanapun akhwat tetaplah manusia biasa. Terus gimana denganku setelah mengetahui semua itu sekarang? Senengkah? Banggakah? Kecewakah? Atau apa? Ahh entahlah.. normal bagiku jika merasakan hal seperti itu. Sayangnya itu masa lalu dan baru kebuka sekarang, coba kalo dari dulu.. hehe.. Astaghfirullah! Wahai setan pergi! Aku takkan terayu bujukanmu untuk berpanjang angan-angan.
“Hmm.. ternyata banyak juga ya. Berarti terkenal dong Mas? Hehe..” Ujarku kepedean.
“Jangan pede dulu. Emang iya terkenal, tapi terkenal anehnya.” Cibir Anna.
“Kok aneh? maksudnya” Tanyaku.
“Emang Mas gak ngerasa aneh?” Anna balik tanya. “Mas tu ya orangnya gak tertebak. Seringnya yang nampak tu tampangnya serem, nyungkanin banget diliat mata. Tapi ada kalanya terlihat lucu banget, khususnya pas kuliah Mas ketawa-ketiwi sendiri baca buku kuliah, padahal bahasanya super kaku, emang apa lucunya coba buku sistem informasi manajemen? Terus pas bacain puisi buat Kak Ali juga konyol banget, semua Akhwat gak ada yang gak ketawa liat Mas yang kaya gitu. Terus kadang juga keliatan bijaksanaaaa... banget, terutama bahasa SMSnya dan pas ngelayani konsultasi psikologi”
Aku tertawa mendengar apa yang diceritakan Anna dan dari situ kuakui selera humorku emang rada aneh. “Owh.. ok. Teruskan..teruskan”
“Ya udah itu aja”
“Ah masak cuma itu yang bikin Ayank sampe ngotot ngelobi keluarga? bahkan sampe semua heran lho, baru kali itu ngeliat seorang Anna yang terkenal degan kepala batunya itu pengen nikah, padahal kemaren-kemaren dilamarin orang-orang berkelas ditolak semua. Lha giliran ini, cowok yang baru dikenal, masih belum jelas masa depannya gimana, udah ngebetnya minta ampun pengen dinikahin”
“Mm.. apa ya?” Anna berfikir keras mengingat sesuatu yang mungkin terlewat. “Emang sih jujur ya mas, sebab Anna bisa penasaran dan tertarik sama Mas tu setelah dapet cerita-cerita tentang Mas dari Lina” Ungkap Anna malu-malu. “Bisa jadi info-info detil dari Lina itu menjadi salah satu faktor yang buat Anna makin yakin dan mantap”
“Ha? Siapa? Lina? Kok bisa? Emang dia cerita apa aja?”
“Hmm.. banyak pokoknya. Semua tentang Mas deh, Dia bercerita dengan semangat dan senang hati tanpa diminta. Mungkin dari ujung rambut sampai ujung kuku sudah pernah diceritakan semua olehnya. Haha..” Anna tertawa riang, sedangkan aku merasa agak aneh mendengar penuturan Anna. Sekarang baru tau ternyata ada pihak ketiga yang menjadi narasumber utama. “Makanya dulu kan pernah Anna minta ijin sama Mas boleh gak dengar cerita tentang Mas? Dan Mas jawab boleh, jadi ya udah lanjut”
Tiba-tiba sesuatu tentang Lina terlintas dibenakku. Seperti tersambar tiang listrik, Aku tersadar sesuatu. Mata rantai yang hilang. Mengapa dia begitu bersemangat dan senang hati bercerita semua hal tentangku? Bahkan tanpa diminta? Apa maksud semua itu? semakin berfikir, semakin berdesir dadaku. Jelas sebagai seorang pengamat psikologi walaupun amatiran, aku sudah tau jawaban dari apa yang aku tanyakan, tapi sayang aku tak mampu mendongakkan muka melihat jawaban seterang matahari itu. Bukan tak mampu tapi tak mau karena rasa malu.
“Emang dari awal udah ada niatan mau ngajak merit gitu?” Tanyaku lagi.
“Mas kepedean. Anna tu awalnya gak ada niatan sama sekali buat tau tentang Mas, apalagi mau merit sama Mas. Semua muncul begitu aja setelah denger cerita-cerita dari Lina tentang Mas dan mastiin sendiri apa emang mas tu seperti yang diceritain Lina”
Tanganku berhenti mengaduk, sesuatu membuatku seolah tak mampu menggerakkan bahu dan lenganku. Mukaku menatap kosong adonan didepanku. Apakah ini maksud dari raut wajahnya yang kosong, pucat pasi, layu, dan matanya yang sembab saat aku bertemu dengannya terakhir kali? Serasa runtuh semua logika yang kubangun selama ini memikirkan hal itu. Ada yang tertahan didalam diriku, sesuatu yang besar, sesuatu yang belum sempat kusampaikan hingga detik terakhir saat dia menatapku dengan wajah gembira tapi sendu.
“Ihh.. Mas gosong tuhh..” Anna berlonjak-lonjak menepuki bahuku, sejurus kemudian menciduki adonan yang gosong dengan senjata centong kayunya.
Aku berjingkat kaget dan spontan langsung mengaduk-aduk lagi dengan kecepatan tinggi tak terkendali hingga membuat wajan nyaris tumplek.
Duhai waktu salahkah aku?

0 komentar:
Posting Komentar