Sabtu, 27 April 2013

Mata Rantai Yang Hilang


Aku sibuk mengaduk-aduk adonan ketika Anna berteriak kegirangan setelah membaca SMS yang memberitahukan bahwa proyek yang ia tawarkan kepada salah satu organisasi kemasyarakatan lokal goal. Sambil berlonjak-lonjak senang Dia datang kepadaku memperlihatkan SMS yang diterimanya.
“Gimana benerkan? Pasti goal” Ujarnya riang seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah mainan. “Kan udah Anna mintain sama Allah, hehe..” Nyengir.  
“Alhamdu..” Ucapku yang dengan sengaja tak kuselesaikan. Sebuah habbit untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
“Lillaaahh...” Anna melanjutkan dengan semangat. “Tinggal eksekusi progamnya. Ntar minta bantuannya ya?”
“Siap Permaisuri. Hamba akan melayani dengan senang hati” Kelakarku. Aku berhenti sejenak mengaduk adonan, berdiri, lalu kubungkukkan badan sambil meletakkan tangan didada ala bangsawan eropa. “Insyaallah”
“Hehe.. makasih..  Ayank baik bangeet..” Anna tertawa senang. Sekilas taring kucing tunggalnya terlihat putih bersinar saat ia tertawa, hal paling kusuka ketika melihatnya tawanya. “Gimana adonannya? Dah jadi? Boleh icip-icip gak?” Tangan kecilnya siap menyerobot dipinggiran wajan, mencari kesempatan mencuil barang sedulit dua dulit adonan yang sedang dalam proses.
“Eitts..” Kutepis tangan Anna. Lalu dengan isyarat telunjuk aku melarangnya. “No..no..no..” Mimikku serius. “Adonannya belum jadi dan belum boleh diicip-icip. nanti kalo da cukup matang, ok!” Aku terus mengaduk sambil sesekali memerhatikan api dari kayu bakar agar tidak kegedean atau mati. Anna mengangguk nurut sambil melihatku seperti anak kucing yang ingin dibelai manja majikannya. Ceritanya Kami sedang bereksperimen resep produk olahan makanan yang Insyaallah akan menjadi basis usaha keluarga.
“Mas belajar masak dimana sih? kok masak apa aja bisa, makanan ringan, makanan berat, dan makanan aneh-aneh kaya kemaren. Kayaknya gampang banget gitu liat Mas masak, jadi ngiri” Anna manyun melihat tanganku yang sedang mengaduk-aduk adonan, lalu air mukanya berubah serius, seolah-olah sedang mempelajari sesuatu dari itu. Sesekali Ia membantu memisahkan beberapa adonan yang gosong karena kelalaianku dalam mengaduk.
“Mau tau?” Tanyaku. Anna mengangguk. “Bener mau tau?” Kunaikkan intonasinya. Anna mengangguk lagi. “Beneran mau tau?” Kunaikkan lagi intonasinya satu tingkat. Anna mengangguk gak sabar. “Mau tau aja atau mau tau banget?” Tanyaku lembut berbisik ke telinga Anna yang kemudian membuatnya merajuk manja.
“Ahh.. Mas ihh..” Rajuk Anna sambil mencubiti bahuku.
“Jawabannya adalahhh... deng..deng..” Aku bergaya seperti di acara kuis-kuis. “Pergi ke Mbah google, hehee..”
“Mbah google? Siapa mbah google? Emang ada orang yang namanya kaya gitu? Kok kaya nama apa gitu diinternet”
“Hahahaa.. makanya Ayank..” Kucubit pipi Anna dengan gemas. “Jadi orang tu jangan gaptek. Mbah google tu ya emang internet, lebih tepatnya mesin searching buat surfing” Aku ngakak gak abis-abis melihat kepolosan Istriku. Harap maklum sodara-sodara, Istriku ini emang kurang familiar dengan internet. Aku juga heran Kok bisa-bisanya ada anak abad 20 model gitu.
Merasa dijadiin bahan tertawaan Anna semakin cemberut, sambil buang muka bibirnya meruncing menggumamkan kata-kata “kalo emang gak mau beritahu gak usah menghina”
“Hehe.. maap..maap.. gak ketawa lagi deh. Ntar tak ajarin gimana caranya biar pinter masak dengan bantuan mbah google” Janjiku.
“Beneran ya?” Anna menatapku tajam.
“Siap” Aku hormat dengan penuh semangat.
Beberapa menit keheningan menyapa kami. Aku sibuk mengaduk-aduk adonan sedangkan Anna sibuk menjaga kestabilan api.
“Emm.. Ayank.. sebenarnya ada satu hal yang sampai saat ini membuatku penasaran banget” Aku membuka suara memulai sebuah topik baru.
“Apa?” Anna masih sibuk memasukkan kayu sengon kering kedalam perapian.
Sejenak aku ragu akan pertanyaanku, tapi kupikir sejenak, justru perasaan yang seperti yang harus dihilangkan dalam sebuah kehidupan rumah tangga. “Kenapa sih Ayank dulu bisa yakin banget sama Mas pas nantang merit. Emang apa alasannya? Ayank kenal Mas ja juga baru sebentar banget. Seingat Mas kita baru komunikasi tu setelah ada tugas kelompok campuran dari Pak Sudi, gak lebih dari 3 bulan tho”
“Kan Allah yang ngasih keyakinan” Jawab Anna diplomatis.
“Yee.. kalo itu mah Mas juga tau. Tapi Mas merasa pasti ada alasan lain yang melatarbelakangi semuanya. Nah apa itu?” Korekku.
Anna malah tersenyum malu tapi mau.
“Kan kayaknya aneh aja, ada seorang wanita mendatangi seorang pria, ngajak merit tanpa ia mengenalnya dengan seksama terlebih dahulu, atau paling gak ada yang merekomendasikan, tapi setau mas proses kita itu kan gak ada perantaranya”
“Hehee.. siapa bilang Anna gak tau Mas, Mas aja yang gak tau Anna” Ucap Anna ringan.
Aku menelan ludah dan nyengir mendengar ucapan Anna. “Maksudnya? Coba dijelasin lebih detil”
“Yang jelas sudah pasti Anna ta’rif dulu tentang Mas mengenai hal-hal yang sudah Anna tentukan sebelum bulat mengambil keputusan itu. Bagaimanapun pernikahan dan rumah tangga bukanlah perkara main-main atau sekedarnya saja. Anna paham betul hal itu” Jelas Anna dengan ekspresi serius. Hilang sudah penampakan imut-imut dan jiwa kekakanannya jika dalam keadaan seperti itu. “Tapi sebenernya semua info tentang Mas justru Anna dapet secara gak langsung”
Ini perempuan emang gak terduga sama sekali. “Secara gak langsung gimana maksudnya?” Aku semakin penasaran.
“Hehee..” Anna malah cengengesan.
Aku menggelengkan kepala. Ternyata istriku jauh lebih menakutkan daripada yang terlihat.
“Anna tu tau Mas sebagian dari pengamatan Anna sendiri ketika komunikasi sama Mas, sedangkan sebagiannya lagi dari temen-temen ketika mereka gosipin Mas”
Alisku terangkat. Kaget. “He? Dari temen-temen? Gosip? Maksudnya?”
 “Tau gak sih? dulu tu Mas sering digosipin sama temen-temen akhwat diasrama, terutama setelah even KKL. Anna emang gak ikut secara langsung sih tapi kena efek suaranya”
“Kena efek suara apa ikutan ngegosip?” Cibirku.
“Anna gak ikut nimbrung Mas, beneran, tapi emang suara temen-temen tu kedengeran sampai kamar Anna” Dalih Anna.
“Oke..okelah. Lupakan hal itu. Lanjut..” Aku memilih tidak banyak berdebat kusir dengan Anna karena aku sudah tidak sabar mendengar yang selanjutnya. “Siapa aja yang gosipin?” tanyaku lagi dengan naluri membara.
“Mm.. siapa aja ya.. Teh Aisy, Mbak Nira, Mbak Vivi, Mbak Ini, Mbak Itu.. bla..bla..bla..” Suara Anna terdengar seperti dengungan lebah ditelingaku. Tak terduga. Siapa yang sangka para akhwat yang dari luar tampak pendiam, menjaga diri, dan kelihatan anggun itu ternyata seneng ngegosip juga. Aku menggelengkan kepalaku. Bagaimanapun akhwat tetaplah manusia biasa. Terus gimana denganku setelah mengetahui semua itu sekarang? Senengkah? Banggakah? Kecewakah? Atau apa? Ahh entahlah.. normal bagiku jika merasakan hal seperti itu. Sayangnya itu masa lalu dan baru kebuka sekarang, coba kalo dari dulu.. hehe.. Astaghfirullah! Wahai setan pergi! Aku takkan terayu bujukanmu untuk berpanjang angan-angan.
“Hmm.. ternyata banyak juga ya. Berarti terkenal dong Mas? Hehe..” Ujarku kepedean.
“Jangan pede dulu. Emang iya terkenal, tapi terkenal anehnya.” Cibir Anna.
“Kok aneh? maksudnya” Tanyaku.
“Emang Mas gak ngerasa aneh?” Anna balik tanya. “Mas tu ya orangnya gak tertebak. Seringnya yang nampak tu tampangnya serem, nyungkanin banget diliat mata. Tapi ada kalanya terlihat lucu banget, khususnya pas kuliah Mas ketawa-ketiwi sendiri baca buku kuliah, padahal bahasanya super kaku, emang apa lucunya coba buku sistem informasi manajemen? Terus pas bacain puisi buat Kak Ali juga konyol banget, semua Akhwat gak ada yang gak ketawa liat Mas yang kaya gitu. Terus kadang juga keliatan bijaksanaaaa... banget, terutama bahasa SMSnya dan pas ngelayani konsultasi psikologi”
Aku tertawa mendengar apa yang diceritakan Anna dan dari situ kuakui selera humorku emang rada aneh. “Owh.. ok. Teruskan..teruskan”
“Ya udah itu aja”
“Ah masak cuma itu yang bikin Ayank sampe ngotot ngelobi keluarga? bahkan sampe semua heran lho, baru kali itu ngeliat seorang Anna yang terkenal degan kepala batunya itu pengen nikah, padahal kemaren-kemaren dilamarin orang-orang berkelas ditolak semua. Lha giliran ini, cowok yang baru dikenal, masih belum jelas masa depannya gimana, udah ngebetnya minta ampun pengen dinikahin”
“Mm.. apa ya?” Anna berfikir keras mengingat sesuatu yang mungkin terlewat. “Emang sih jujur ya mas, sebab Anna bisa penasaran dan tertarik sama Mas tu setelah dapet cerita-cerita tentang Mas dari Lina” Ungkap Anna malu-malu. “Bisa jadi info-info detil dari Lina itu menjadi salah satu faktor yang buat Anna makin yakin dan mantap”
“Ha? Siapa? Lina? Kok bisa? Emang dia cerita apa aja?”
“Hmm.. banyak pokoknya. Semua tentang Mas deh, Dia bercerita dengan semangat dan senang hati tanpa diminta. Mungkin dari ujung rambut sampai ujung kuku sudah pernah diceritakan semua olehnya. Haha..” Anna tertawa riang, sedangkan aku merasa agak aneh mendengar penuturan Anna. Sekarang baru tau ternyata ada pihak ketiga yang menjadi narasumber utama. “Makanya dulu kan pernah Anna minta ijin sama Mas boleh gak dengar cerita tentang Mas? Dan Mas jawab boleh, jadi ya udah lanjut”
Tiba-tiba sesuatu tentang Lina terlintas dibenakku. Seperti tersambar tiang listrik, Aku tersadar sesuatu. Mata rantai yang hilang. Mengapa dia begitu bersemangat dan senang hati bercerita semua hal tentangku? Bahkan tanpa diminta? Apa maksud semua itu? semakin berfikir, semakin berdesir dadaku. Jelas sebagai seorang pengamat psikologi walaupun amatiran, aku sudah tau jawaban dari apa yang aku tanyakan, tapi sayang aku tak mampu mendongakkan muka melihat jawaban seterang matahari itu. Bukan tak mampu tapi tak mau karena rasa malu.
“Emang dari awal udah ada niatan mau ngajak merit gitu?” Tanyaku lagi.
“Mas kepedean. Anna tu awalnya gak ada niatan sama sekali buat tau tentang Mas, apalagi mau merit sama Mas. Semua muncul begitu aja setelah denger cerita-cerita dari Lina tentang Mas dan mastiin sendiri apa emang mas tu seperti yang diceritain Lina”
Tanganku berhenti mengaduk, sesuatu membuatku seolah tak mampu menggerakkan bahu dan lenganku. Mukaku menatap kosong adonan didepanku. Apakah ini maksud dari raut wajahnya yang kosong, pucat pasi, layu, dan matanya yang sembab saat aku bertemu dengannya terakhir kali? Serasa runtuh semua logika yang kubangun selama ini memikirkan hal itu. Ada yang tertahan didalam diriku, sesuatu yang besar, sesuatu yang belum sempat kusampaikan hingga detik terakhir saat dia menatapku dengan wajah gembira tapi sendu.
“Ihh.. Mas gosong tuhh..” Anna berlonjak-lonjak menepuki bahuku, sejurus kemudian menciduki adonan yang gosong dengan senjata centong kayunya.
Aku berjingkat kaget dan spontan langsung mengaduk-aduk lagi dengan kecepatan tinggi tak terkendali hingga membuat wajan nyaris tumplek.
Duhai waktu salahkah aku?

Senin, 15 April 2013

The Great Planning




      Emg g da rsa tkt tau khwtr sm skl dgn rsko dan knsekuensinya? Q ni msh nol. Krjaan blm ada, hdp blm mapan, n pnglman jg msh sdkt


     Sbg mnsia bysa tnt hal tu da. Tp q brfkir bhw q kn pny Allah yg mha mgblkan doa. Jd q g khwtr kl yg mygkt kduniawian. Rizki? Smwny sdh d tlskn kn? Bhkn sblm kta lhir. N antm tu g nol? Antm pny iman, antm pny ilmu dan jstru itlh mdal yg plg pntg n brhrga.


     Subhanallah.. serasa langsung rontok dadaku. Gemetaran ketika membaca kalimat singkat namun memiliki makna yang dalam itu. Perlahan air mataku menetes walau tak kuijinkan ia keluar. Aku merasa malu. Merasa begitu kecil. Pada Allah, pada diriku sendiri, dan pada dia.


         Faidza azamta fatawakkal alallah. Ktk kta sdh yakin n brazam trhdp 1 kptsan, y sdh tggl kta ushkn smksimal mgkn dan brtawakkal kpd Allah. Cz Allah pst me2lihr org2 yg bertwakkal. Insyaallah dg iznNy smua akn dickpi. Jd apa yg prlu dkhwtrkan? Bknkh alam, jgad raya, dan khidupan ni mlk Allah?


      Astaghfirullah..


    Lgpla lht btpa indhny jnji Allah tntg prnkhan 2 hmba yg ign mjg khrmtannya? Subhanallah.. brkhnya bhkn trs hny dg mmkrkannya. 3 gol yg brhk ditlng Allah, slah stuny adl 2 hmba yg mnkah cz ign mnjg kesucian dan khrmatanny (Alhadits)


     Iya ukhti. Mr kt jmpt jnji Allah n Rasulnya yg mlia. Subhanallahu lahaula wala quwwata illa billah. nikmalmaula wanikmalwakil nikmalmaula wanikmannasir. Q mengkhitbahmu hr ni. Smg Allah mlpangkn n mmdahkn jln kta 


        Alhamdulillah. Amin 


        Klo bgt lgkh slnjtnya adl mlksnkn plning yg tlh d  ssun di proposal kmrn?


        Iya smg Allah mmdhkan


        Amin 

          Sebelum komunikasi diatas aku sudah beristikharah beberapa kali dan jawaban yang muncul memang cenderung untuk menerima. Tapi ada beberapa bagian dari diriku yang entah kenapa masih belum merasa yakin, oleh karena itu aku menanyakan hal-hal yang kurasa perlu kutanyakan kepadanya.

        Setelah itu kami harus melaksanakan planing yang telah kami susun secara rinci. Planing yang diberi judul “the way to heaven” itu merupakan planing gabungan yang disarikan dari proposal kami berdua. Planing tersebut dibagi menjadi dua bagian besar yaitu bagian horisontal dan bagian vertikal. Yang dimaksud bagian horisontal adalah yang berhubungan dengan Allah, sedangkan bagian vertikal yang berhubungan dengan keluarga, orang-orang terdekat, terutama orangtua.

      Untuk planing bagian pertama diperuntukkan khusus untuk meminta ridho dan pertolongan Allah. Kami sadar bahwa dalam proses tersebut kami penuh sekali dengan keterbatasan. Karenanya kiranya kami berbelas kasih kepada Allah agar berkenan menutup semua keterbatasan itu. Kurang lebih ada tujuh poin yang tertera yang harus dijadikan habbit agar pertolongan itu segera tiba:

  1. Memuhasabahi diri terhadap 10 dosa besar penghalang rizki, jika ada langsung bertaubat dengan taubatan nasuha
  2. Menjaga shalat fardu secara berjamaah dan berada didalam masjid pada waktu antara adzan dan iqomah karena itu adalah salah satu waktu ijabahnya doa 
  3. Menjaga shalat sunnah. Rawatib, duha, tahajjud, dan hajat 
  4. Banyak membaca Al-quran dan merenungi maknanya, terutama surat-surat pilihan seperti Al-mulk, Arrahman, Al-waqiah, dan Yasin. 
  5. Senantiasa berdoa diwaktu-waktu mustajab
  6. Memperbanyak dzikir riyadhoh, terutama di sepertiga malam terakhir. Direkomendasikan shalawat istighfar atau asmaul husna
  7. Bersedekah sebanyak-banyaknya untuk mempercepat turunnya pertolongan Allah. sedekah paling tidak 10% dari estimasi seluruh dana yang dibutuhkan dalam menyelenggarakan acara (cara ini adalah jurus yang dipopulerkan oleh ustadz yusuf mansur).  
Untuk planing bagian kedua diperuntukkan agar langkah kami mendapat restu keluarga, terutama dari orangtua. Karena kami sadar bahwa ketika punya niat atau rencana yang baik restu Allah dan orangtua adalah dua hal yang tak terpisahkan apabila ingin rencana tersebut mendapatkan berkah dari langit. Untuk itu ada tiga pintu yang harus dilewati sebelum sampai goal, pada bagian ini diutamakan satu pintu harus berhasil dibuka sebelum beranjak ke pintu yang lain:

  1. Menaklukkan keluarga terutama kedua orangtua. Kami harus mengkomunikasikan niat dan rencana baik yang telah kami susun kepada ortu, diutamakan yang paling dekat psikologisnya. Menjelaskannya, memberi alasan dan visi misinya, serta tak lupa memperkenalkan calonnya.
  2. Exchange communication. Aku berkomunikasi dengan ortunya dan begitu juga sebaliknya. Komunikasi perdana ini dimaksudkan untuk melamar secara tidak resmi dan agar ortu bisa mengenal lebih jauh calon mantunya. Komunikasi ini dilakukan via telepon.
  3. Teleconference. Komunikasi bersama antara aku, dia, kedua ortu kami, dan pihak-pihak yang dirasa perlu dilibatkan dalam komunikasi ini. Komunikasi ini juga dilakukan via telepon.
  4. Melamar secara resmi. Aku datang dengan ortu atau wali kerumah dia untuk meminta secara resmi dihadapan keluarga besar.
  5. Goal alias nikah  

Apakah rencana ini akan berjalan sebagaimana mestinya? I don’t know. Kita liat saja nanti bagaimana kelanjutannya.

Insiden



    trus kta ini gmana? 

          Apanya yang gimana? pikirku seketika setelah membaca SMS itu. 
 
     mksudny?

       apa bda kta sma taaruf?
 
      mm.. scr gris bsar sma, bdany dlm taaruf biasany d moderatori oleh phak ke-3 sdgkn kta g da

    trs antm mw lnjt g?

    Duileh main todong aja nih bocah. Keringetan juga dapet pertanyaan model kaya gini. jadi kaya di novel-novel.
 
          tggu bntar y, lg nentorin nih.. tnggung.


       iya. Jgn lma2 y jwbny. Emergency.

          Duuhhh bahasanya.. emergency.. kaya yang mau ngelahirin anak aja mbak.
        Kucubit pipi kanan dan kiri, sakit rasanya. Berarti bukan mimpi. Aku tersenyum-senyum sendiri. Mantab jaya dah... What should I do now?
          Aku terus berfikir jawaban seperti apa yang harus Aku berikan. Tentunya jawaban itu adalah yang paling bijak untuk kedua pihak, for her and me. Sekian menit alam sadarku masih terbalut kebingungan.
          Ternyata pusing juga ngadepin perkara kaya gini. Aku teringat salah seorang temen yang pernah ngalamin hal yang mirip. Ketika itu Dia datang kepadaku untuk minta pandangan dan Aku masih ingat betul apa yang Aku bilang waktu itu, “lek iyo iyo, lek ora ora, ojo iyo seng ora ora”. nyatanya ketika Aku dihadapkan pada permasalahan serupa seolah kata-kata yang dulu kugunakan itu menguap tak meninggalkan sedikit jejakpun.
          Aku terus memutar-mutar spidol ditangan. Memikirkan apa-apa yang berhubungan SMS tadi, terutama beberapa alternatif jawaban dan implikasinya.

        “Mas selesai nih..” Roni meletakkan kertasnya yang berisi kurang lebih 20 paragraf panjang. Kubaca tulisan roni dengan pikiran yang melayang kemana-mana.
          “Ron, sini Ron. Ente nulis apaan nih?”
          “Resensi buku Mas.” Jawab Roni dengan wajah tak berdosa.

          “Resensi model apaan? kok kaya gini tulisannya?”

        “Ya maap Mas” kata Roni dengan lafal medoknya. “Tulisan Saya emang dari dulu gak pernah bagus. Nanti Saya perbaiki deh Mas biar bisa dibaca”

          Aku menggelengkan kepala. “Baca nih tulisan” Aku menyodorkan sebuah tulisan yang kutulis.

         Roni mengambil kertas yang kusodorkan dan serta merta matanya jadi juling. “Tulisan apaan nih Mas? Sama sekali gak bisa dibaca”

         “Ctak!” kujentikkan jari bak pesulap yang telah menyajikan triknya. “Nahh.. itu Dia Ron. Tulisan Ane juga gak bisa dibaca”

          “Wahh.. sama dong Mas. Senasib seperjuangan. Hahahaa..” Roni tertawa lepas. “Saya kira cuma Saya yang tulisannya bakat jadi dokter tapi ternyata milik Mas juga. Hahaha...”

          “Tapi bukan itu yang Ane maksud”

          “Eh Mas tapi Saya kira kita emang punya bakat terpendam”

          “Bakat apaan?”

          “Jadi dokter. Haahaha..”

          “Hahaahaa.. asem!  tapi bisa juga sih kapan-kapan kita ikut tes kedokteran siapa tau masuk gara-gara tulisan kaya gini”

           “Betul Mas setuju.. trus ntar sekalian bikin grup tulisan ancur hahahaa..”

          “iya betul trus...” Aku berhenti. Roni nyengir. “Ntar dulu Ron, bukan kaya gitu yang Ane maksud. Ah Ente nih bikin Ane melenceng ja dari rencana awal. Maksud Ane bicarain masalah tulisan tadi bukannya pengin ngebandingin tulisan kita, tapi yang Ane maksud tu tulisan Ane lebih jelek daripada tulisan Ente”

           “Hahahaa.. itu mah Saya juga tau Mas. Mas ternyata kocak walaupun tampangnya serem hahahaa..!!” Roni ngakak dan Akupun ikutan ngakak.

          “Maka dari itu gak usah kuatir, Ane bisa baca tulisan Ente. Jadi yang Ane maksud dengan tulisan tadi tu bukannya tulisan tangan Ente yang kaya cacing kepanasan ini tapi gaya dan bahasa penulisan tulisan Ente yang kaya orang curhat”

            “Oww.. gitu. Hahaa baru paham Mas. Maap”

            “Jadi kenapa nih? Yang Ane minta kan resensi bukan pengalaman Ente baca buku”

            “Hehe.. maap Mas. Abisnya baru pertama kali nulis resensi”

            “Emang buku kumpulan resensi kemaren gak dibaca?”

            “Kumpulan resensi?” Tanya Roni sambil pasang tampang blo’on.

      “Emhh.. pantesan tulisan Ente kaya orang galau semua isinya. Tolonglah.. kalo minjem buku tu dimanfaatkan dengan maksimal” Cibirku.

            “Heheh.. iya Mas maap” Roni nyengir.
           “Ya udah kalo gitu Ente bawa nih tulisan trus dibenerin ampe bener, pedomannya pake buku yang Ente minjem kemaren”
            “Jadi buat PR nih Mas? siap!”

        Aku mengangguk . “Satu pertanyaan lagi Ron” Aku tengok kanan kiri, memastikan gak ada yang nguping. “Kalo seumpama nih Ente ditantang nikah sama cewek apa yang Ente lakuin?” tanyaku dengan volume suara yang kukecilkan.

“Kok tanya kaya gitu Mas? Jangan-jangan...”

“Ssttt.. udah jawab aja. Gak usah banyak tanya dan komen, kalo gak mau jawab nyingkir”

“Widih serius!” Roni setengah berteriak dengan wajah berbinar. Entah gak tau nih, kebanyakan temen-temen kalo menyangkut urusan ke arah situ pasti wajahnya berbinar-binar.

“Pelan dikit napa suaranya” Sambil kubungkam mulut Roni.

“hehehe.. Kalo Saya Mas, asalkan Dia solehah dan Ibu cocok, ambil dah” jawab Roni enteng.

“Ambil? Kaya barang dagangan aja Ente. Ya udah makasih. Sana kembali ke alammu”

“Selamat ya Mas. Jangan lupa ngundang pas resepsinya. Hehehee..” Goda Roni.

“ngundang? Kagak gua. Palingan Ente cuma pengen makan gratisan aja”

Roni nyengir lalu melangkah pergi.

Aku mangut-mangut sendiri memikirkan jawaban Roni. Ada betulnya juga sih. Jawaban tadi bisa jadi Referensi penting dalam memecahkan kepusinganku. Aku segera mengalihkan perhatian pada tulisan anak-anak yang lain. Acara tentoring berakhir tepat pada pukul 5 sore. Sepulang dari acara tersebut, sambil jalan Aku terus berfikir jawaban apa yang mesti kuberikan.

     Kucoba jabarin perkara menjadi beberapa bagian sehingga lebih gampang untuk dipecahkan. Bagian itu terdiri dari ketakutan, harapan, dan pertanyaan.

Ketakutan direfleksikan dengan rasa takut ketika membayangkan resiko atau implikasi dari jawaban yang bakal kuberikan. Umpamanya nih, dijawab “ya”, sudah pasti implikasinya Aku kudu mengucap khitbah, kemudian sebab status itu secara logika jarakku dengan pernikahan bak tinggal satu tangga, akhirnya kudu siap menjadi kepala rumah tangga dengan segala kewajiban dan haknya. Kalo dijawab tidak, masih belum jelas apa saja yang bakal terjadi, satu hal yang pasti Aku gak bakalan berhubungan dengan Dia lagi. Tapi.. sayang juga sih kalo dilepas karena sepemahamanku Dia bukan perempuan sembarangan, sedangkan Aku gak tau kesempatan kaya gini bakal datang lagi atau tidak. 

      Harapan direfleksikan dalam bentuk kekaguman. Satu hal yang membuatku mengacungkan jempol untuk perempuan seperti Dia adalah keberanian untuk tegas mencari terang apa yang gelap. Tanpa riweh, no pekewuh dan tedeng aling-aling, hal yang patut mendapat apresiasi tertinggi. Walau entah apa yang Dia pikir dan rasakan sekarang, tentang resiko dan konsekuensi atas apa yang dilakukannya, yang jelas mengambil keputusan seperti itu bukanlah hal yang mudah. Sebab kalo dilihat lebih dalam lagi, kami masih sama-sama muda, yang kata kebanyakan orang masa usia kami ini adalah masa yang paling menyenangkan untuk mencari pengalaman sebanyak dan seluas-luasnya dan oleh karenanya sayang sekali jika semua kesempatan itu harus kandas karena menikah. Karena katanya lagi, orang yang sudah menikah itu akan jadi sempit langkahnya, sulit geraknya, dan serba terikat sehingga akan menghalangi pengembangan potensi diri. Tapi kalo Aku sendiri gak setuju dengan statemen itu karena menurutku statemen itu terlalu dangkal untuk seorang makhluk yang diciptakan dengan begitu banyak keunggulan yang luar biasa, justru pemikiran seperti itu yang bakal mematikan potensi luar biasa itu. Aku jadi teringat sesuatu, bahwa Aku juga sedang dekat dengan seseorang, yang sebenarnya Aku ingin punya hubungan lebih dalam, atau paling tidak kita rembukan dulu gimana prospek kedepannya secara terang-terangan, tapi sayangnya Dia selalu mensubmit dirinya dengan perasaan negatif dan pesimis terhadap kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi pada hubungan itu. Selalu berkata gak mungkin lah, gak bisa lah, gak sanggup lah, gak cocok lah, halahh.. membuatku ikut-ikutan negatif dan pesimis, sehingga menimbulkan perasaan sungkan dengan semua pembicaraan serius yang sebenarnya ingin Aku sampaikan.

            Aku jadi berfikir. Bahwa hidup di dunia ini memang tidak gampang untuk membuat sebuah keputusan. Apapun itu. Apalagi yang nampaknya banyak mengandung resiko dan mengundang konsekuensi. Tentunya semua hal selalu mengandung resiko dan mengundang konsekuensi. Tapi ada resiko dan konsekuensi yang di rasa berat untuk dijalani sehingga berusaha dihindari karena berbagai alasan yang dibuat sendiri. Jadi emang gak mudah buat berfikir gila dan menantang resiko. Butuh tidak sekedar keyakinan tapi juga keberanian dan kepasrahan total pada Tuhan. Jadi intinya gak gampang jadi orang luar biasa, diluar kebiasaan yang ada, memberontak, menerobos, menemukan hal-hal baru yang menyenangkan dan menantang andrenalin. Orang kaya gitu tu langka keberadaannya.

           Dari pemikiran tadi kutemukan satu konklusi yang memberikan satu nilai plus dari perempuan itu. Dia termasuk dalam kategori makhluk langka yang gak bisa didapat disembarang waktu dan tempat.

           Pecahan perkara ketiga direfleksikan dari banyaknya pertanyaan yang muncul. Namun ada pertanyaan yang sifatnya sangat mendasar, seperti dimana letak keyakinanku? Jawaban ya atau tidak? Apa alasannya? ketika Aku menjawab ya, Aku harus mulai darimana? Dan ketika Aku menjawab tidak apakah kesempatan seperti ini bisa datang lagi? bisakah dipastikan tidak ada penyesalan didalam diriku?

            Aku terus berfikir sampai tak terasa Aku menabrak seseorang.

          “Ma..maaf..maaf” Kataku spontan. “Lho..” Aku kaget karena yang kutabrak adalah seseorang yang sama sekali tak terduga.

           “An..antum??” Seseorang itu tak kalah kaget daripada Aku. Wajahnya langsung merah bersemu.

           Wajahku? Jangan kau tanya tentang itu. Selama seminggu setelah insiden itu Aku sama sekali tak berani berkaca. Tapi satu hal yang jelas, Aku harus segera menghubungi Ibuku.