Minggu, 27 Januari 2013

The Good Liar




Desa wedhokan, malam minggu itu agak lain dari biasanya. Kalo biasanya desa yang berada di area perkebunan ini sepi dari keramaian manusia, maka malam itu tidak. Ceritanya saat itu sedang ada even yang diadakan seorang putra asli Wedhokan yang baru tamat dari belajarnya di Unversitas Diponegoro. Sang wisudawan, Mas Pram, pribadi yang begitu riang, penuh dedikasi dan seorang pengagum kemajuan. Oleh karenanya dalam langkah awal ini, Dia akan mencoba sesuatu yang baru, yang tidak pernah ada sebelumnya di desa Wedhokan. What is that? festival dengan tajuk Desa 3M (maju, makmur, modern). 
Alkisah dari berbagai responden yang berhasil kuwawancarai, memang selama ini (selama lebih kurang tiga generasi) desa Wedhokan ini belum pernah menyelenggarakan festival umum, kecuali hajatan pribadi. Oleh karenanya sangat wajar jika para warga menyambut dengan antusias dan riang gembira ide Mas Pram. Apalagi jika melihat lobi-lobi yang dilakukan Mas Pram kepada para sesepuh, tentunya kalian akan mengangguk setuju dengan apresiasme warga. 
Sebenarnya aku pingin sesekali dapat ngobrol panjang lebar dengan Mas Pram karena latar belakang pendidikan kami tak jauh beda, namun apa daya kesibukanku akan ujian membuatku tak berkutik. Kami hanya sempat ngobrol dua kali dan itupun dalam waktu yang amat singkat. Secara umum aku suka kepribadian Mas Pram, pertaruhannya kembali ke desa karena impiannya membangun desa, padahal ada chalenge menarik diluar sana patut diberi aplause. Jaman sekarang jarang-jarang ada mahasiswa yang pulang kampung dengan niatan luhur seperti itu. Mas Pram pun cuma tertawa kecil ketika kuberi apresiasi dengan 4 jempolku.
Sebenarnya cerita seperti ini mungkin klise bagi sebagian sodara-sodara yang sudah membaca ribuan karya, baik fiksi maupun nonfiksi. Dimana ada sebuah cerita tentang seorang pemuda pandai nan gagah yang kembali kedesa, setelah merantau sekian lama demi sebuah cita-cita, entah apalah itu. Kemudian hatinya tertambat pada bunga desa, kemudian mereka menikah, kemudian punya anak, kemudian bahagia selamanya walau cita-citanya tak terealisir alias melenceng (dari membangun desa --> membangun rumah tangga).
Namun kisah ini sama sekali tidak klise, karena aku tidak akan menjadikan Mas Pram dan idealitasnya sebagai topik utama. Mereka hanya pengantar atas cerita yang sesungguhnya.
           “So? Masalah buat gue?”
           “Siape lu?” malah ngacir. “Woy!” malah tambang kenceng larinya.
           Ok sodara jangan hiraukan sekilas info yang nyelonong tadi, mari kita lanjut.
          Dalam festival itu Mas Pram memperlihatkan kecanggihannya dalam mengkonsep acara. Acara akan berjalan selama seminggu penuh. Banyak variasi yang dirancang dengan tujuan menghidupkan dan mendinamiskan suasana. Semua orang terlibat dalam festival itu, mulai dari anak-anak sampai nenek-nenek. so, marvelouse! buat Mas Pram.
          Tapi kejadian yang menarik bagiku hanyalah di satu pertunjukan pada salah satu festival. Saat itu, festival telah memasuki hari ke-4. Inilah festival yang paling ditunggu anak muda, apa itu? Apalagi kalo bukan festival band. Band yang main berasal kota dan beberapa dari desa tetangga serta tak ketinggalan bauran antara putra asli Wedhokan dengan teman-teman Mas Pram dari kota. 
       Acara malam itu berjalan dengan sangat meriah tak seperti hari ke-3. Penampilan band pertama begitu melankolis, sedangkan band kedua yang mengusung genre regae mampu memabukkan para penonton. Band urutan ketiga maju, mereka adalah grup bauran yang ditunggu-tunggu karena band itu adalah satu-satunya band yang ada putra asli Wedhokan. Satu-satunya personil yang kukenal baik disitu adalah Ayin, sang vokalis dadakan yang digodog kurang lebih selama 2 minggu. apa ia bisa? kita lihat bersama.
        Begitu Intro dimainkan, analisisku berkata bahwa genre yang mereka bawakan adalah pop alternative. 

                 Setengah Jalan

   Sialan.. kenapa gak bilang-bilang
  Sialan.. kenapa gak bilang-bilang
   Sialan.. kenapa gak bilang-bilang

(berani juga nih band amatir langsung menyentak pake bahasa kasar gitu)

   Sialan.. kenapa gak terus terang
 Sialan.. kenapa gak terus terang
   Sialan.. kenapa gak terus terang

(dari sini telingaku berdenging)

   Jangan sok jagoan... arrgghh.....!!!

(kucabut analisis pertamaku. mereka ini lebih mirip grup metal atau bisa juga alternative yang keterlalulan)

REFF
    Bilang iya kalau kau suka
  Bilang iya kalau kau cinta
    Gak mau pacaran ayo ke pelaminan
    Gak kesampaian malah menyakitkan
    Gak kesampaian mati penasaran.....

    Kau anggap apa?
 Maumu gimana?
    Terus bagaimana?

       Penampilan itu masih belum selesai ketika aku cabut. Tak kuhiraukan beberapa pemuda yang mencoba mengajakku berbincang menanggapi penampilan band ke-3 itu. Rasa-rasanya kepalaku seperti dihantam ribuan godam, sedang dadaku hampir pecah menahan sesuatu. Terlalu menyakitkan.

Jadi gimana ending cerita festival Mas Pram? jangan tanya aku. aku gak tau.

P.S.: Maaf, terbawa emosi. hanya saja lagu yang dibawakan band alternativ keterlaluan itu mengandung konten yang mengingatkanku akan sesuatu yang ingin sekali kulupakan. Namun faktanya semakin berusaha justru semakin tak bisa. jadi, tolonglah..



_jogja_begitu istimewa_