Desa wedhokan, malam minggu itu agak lain dari biasanya. Kalo biasanya desa yang berada di area perkebunan ini sepi dari keramaian manusia, maka malam itu tidak. Ceritanya saat itu sedang ada even yang diadakan seorang putra asli Wedhokan yang baru tamat dari belajarnya di Unversitas Diponegoro. Sang wisudawan, Mas Pram, pribadi yang begitu riang, penuh dedikasi dan seorang pengagum kemajuan. Oleh karenanya dalam langkah awal ini, Dia akan mencoba sesuatu yang baru, yang tidak pernah ada sebelumnya di desa Wedhokan. What is that? festival dengan tajuk Desa 3M (maju, makmur, modern).
Alkisah dari berbagai responden yang berhasil
kuwawancarai, memang selama ini (selama lebih kurang tiga generasi) desa Wedhokan
ini belum pernah menyelenggarakan festival umum, kecuali hajatan pribadi. Oleh
karenanya sangat wajar jika para warga menyambut dengan antusias dan riang
gembira ide Mas Pram. Apalagi jika melihat lobi-lobi yang dilakukan Mas Pram
kepada para sesepuh, tentunya kalian akan mengangguk setuju dengan apresiasme warga.
Sebenarnya aku pingin sesekali dapat ngobrol
panjang lebar dengan Mas Pram karena latar belakang pendidikan kami tak jauh
beda, namun apa daya kesibukanku akan ujian membuatku tak berkutik. Kami
hanya sempat ngobrol dua kali dan itupun dalam waktu yang amat singkat. Secara
umum aku suka kepribadian Mas Pram, pertaruhannya kembali ke desa karena
impiannya membangun desa, padahal ada chalenge menarik diluar sana patut diberi aplause. Jaman sekarang jarang-jarang ada mahasiswa yang pulang
kampung dengan niatan luhur seperti itu. Mas Pram pun cuma tertawa kecil ketika kuberi
apresiasi dengan 4 jempolku.
Sebenarnya cerita seperti ini mungkin klise bagi
sebagian sodara-sodara yang sudah membaca ribuan karya, baik fiksi maupun
nonfiksi. Dimana ada sebuah cerita tentang seorang pemuda pandai nan gagah yang
kembali kedesa, setelah merantau sekian lama demi sebuah cita-cita, entah
apalah itu. Kemudian hatinya tertambat pada bunga desa, kemudian mereka
menikah, kemudian punya anak, kemudian bahagia selamanya walau cita-citanya tak
terealisir alias melenceng (dari membangun desa --> membangun rumah tangga).
Namun kisah ini sama sekali tidak klise, karena
aku tidak akan menjadikan Mas Pram dan idealitasnya sebagai topik utama. Mereka
hanya pengantar atas cerita yang sesungguhnya.
“So? Masalah buat gue?”
“Siape lu?” malah ngacir. “Woy!” malah tambang kenceng larinya.
Ok sodara jangan hiraukan sekilas info yang nyelonong tadi, mari kita
lanjut.
Dalam festival itu Mas Pram memperlihatkan kecanggihannya dalam mengkonsep
acara. Acara akan berjalan selama seminggu penuh. Banyak variasi yang dirancang
dengan tujuan menghidupkan dan mendinamiskan suasana. Semua orang terlibat
dalam festival itu, mulai dari anak-anak sampai nenek-nenek. so, marvelouse! buat Mas Pram.
Tapi kejadian yang menarik bagiku hanyalah di satu pertunjukan pada salah
satu festival. Saat itu, festival telah memasuki hari ke-4. Inilah festival yang paling ditunggu
anak muda, apa itu? Apalagi kalo bukan festival band. Band yang main berasal kota dan beberapa
dari desa tetangga serta tak ketinggalan bauran antara putra asli Wedhokan dengan
teman-teman Mas Pram dari kota.
Acara malam itu berjalan dengan sangat meriah tak seperti hari ke-3. Penampilan
band pertama begitu melankolis, sedangkan band kedua yang mengusung genre regae
mampu memabukkan para penonton. Band urutan ketiga maju, mereka adalah grup
bauran yang ditunggu-tunggu karena band itu adalah satu-satunya band yang ada
putra asli Wedhokan. Satu-satunya personil yang kukenal baik disitu adalah Ayin, sang vokalis dadakan yang digodog kurang lebih selama 2 minggu. apa ia
bisa? kita lihat bersama.
Begitu Intro dimainkan, analisisku berkata bahwa genre yang mereka bawakan adalah pop alternative.
Setengah Jalan
Sialan.. kenapa gak bilang-bilang
Sialan.. kenapa gak bilang-bilang
Sialan.. kenapa gak bilang-bilang
(berani juga nih band amatir langsung menyentak pake bahasa kasar gitu)
Sialan.. kenapa gak terus terang
Sialan.. kenapa gak terus terang
Sialan.. kenapa gak terus terang
(dari sini telingaku berdenging)
Jangan sok jagoan... arrgghh.....!!!
(kucabut analisis pertamaku. mereka ini lebih mirip grup metal atau bisa juga alternative yang keterlalulan)
REFF
Bilang iya kalau kau
suka
Bilang iya kalau kau cinta
Gak mau pacaran ayo ke
pelaminan
Gak kesampaian malah menyakitkan
Gak kesampaian mati penasaran.....
Kau anggap apa?
Maumu gimana?
Terus bagaimana?
Penampilan itu masih belum selesai ketika aku cabut. Tak kuhiraukan beberapa pemuda yang mencoba mengajakku
berbincang menanggapi penampilan band ke-3 itu. Rasa-rasanya kepalaku seperti dihantam ribuan godam, sedang dadaku hampir
pecah menahan sesuatu. Terlalu menyakitkan.
Jadi gimana ending cerita festival Mas Pram? jangan tanya aku.
aku gak tau.
P.S.: Maaf, terbawa emosi. hanya saja lagu yang dibawakan band alternativ keterlaluan itu mengandung konten yang mengingatkanku akan sesuatu yang ingin sekali kulupakan. Namun faktanya semakin berusaha justru semakin tak bisa. jadi, tolonglah..
_jogja_begitu istimewa_

0 komentar:
Posting Komentar