Suasana masih kaku. betul-betul kaku. aku bingung mau mulai gimana
atau ngapain? diapun juga sama kayaknya, bingung juga, tapi dia lebih
bisa menyembunyikan kebingungannya dengan dalih kesibukan yang entah
bongkar kado, bongkar baju (eits.. baju hadiah maksudnya), bongkar
lemari, pokoknya bongkar-bongkar.
Maklum kawan-kawan, ketahuilah bahwa ini adalah malam pertama
kami setelah ijab qabul terucap. selama ini komunikasi kami tak lebih
dari komunikasi lewat pekan taaruf yang amat singkat.
tak
terbayangkan olehku kondisinya bakalan seperti itu. malam pertama,
seperti yang banyak diceritakan, entah itu cerita benar atau bohong,
adalah malam yang bakalan tak akan terlupakan sepanjang kisah
perkawinan. malam dimana dua orang lawan jenis bisa berkumpul,
berdua-duaan, gelap-gelapan, mojok-mojokan tanpa ditemani syaithan
sebagai orang ketiga tapi digantikan oleh malaikat.
Akhirnya shalat, salam, doa dan kecupan ubun-ubun yang menjadi pemecah kebuntuan dan keheningan. dan akhirnya aksi pun dimulai.
"Ini kertasnya" ucapnya sambil meletakkan segulung kertas manila yang dibundel dengan karet.
"Ini untuk apaan?" tanyaku kebingungan.
"Buka dulu deh yankk.." ucapnya lagi dengan penuh kelembutan.
Wuiidiihh.. panggilan "yank" bener-bener membuat semua bulu kudukku merinding. seumur-umur baru kali ini dipanggil cewek dengan panggilan "yank".
Ehh.. tunggu dulu.. nggak dink, dulu juga pernah dipanggil "yank", sama cewek juga, cuma sama bunyi beda rasa. yang bikin beda hanya karena awalannya aja. kalau panggilan "yank" yang barusan ini mempunyai awalan S dan A, nah sedangkan panggilan "yank" yang dulu pernah mampir ditelinga itu punya awalan huruf P dan E, ilustrasi..
"adik sayaank banget ama kaka"
"woe!! ndiiasmu peyank!" bisa dibayangkan cewek mana kira-kira yang bisa kaya gitu.
jauh banget kan?
Lanjut kekisah yang sebelumnya...
Kupingku rasanya seperti habis dijilatin cottonbud pas denger panggilan "yank" itu, geli-geli gimana gitu. hati, dada, dan jantungku jangan ditanya apa pendapat mereka. semuanya pada ngeband sendiri-sendiri.
Kubuka kertas manila, lalu kubentangkan diatas kasur.
"Malam ini adalah malam yang sangat berbeda dengan malam-malam kemarin" ucapnya. "dua dunia yang berbeda. malam ini adalah awal perjalanan panjang kita"
Aku hanya mengangguk tanpa menimpali.
"Oleh karenanya diawal malam ini, sebelum kita ngapa-ngapain (ini adalah kalimat yang bikin dadaku gatel gak karu2an), kita harus perjelas kemana arah dan tujuan perjalanan kapal yang baru buang sauh ini" mantep juga pengetahuan diksinya ternyata. "adik adalah awak kapal sedangkan mas adalah nahkodanya. awak kapal ikut kemana nahkodanya membentangkan layar kapalnya."
Aku mengangguk-angguk, mengapresiasi istriku yang luar biasa bijak ini. "hmm.. tapi dik, kapal kita ini bukan kapal layar, tapi kapal mesin jet" sebenarnya kata-kata ini dimaksudkan untuk menjadi kalimat humor yang bisa memecah tawa, nyatanya dugaanku salah besar, humorku lahir prematur, keluar disaat yang gak tepat blas. sebenarnya hampir aja aku ketawa sendiri gara-gara humor garing itu, untung bisa tak tahan.
"Ya udah kemana mesin jet akan diarahkan?" tanyanya dengan wajah agak cemberut.
hmmpphh... aku seolah gak bisa tarik nafas karena saking bingungnya mau jawab apa, gak jawab gak malulah aku kan laki-laki yang pingin jaga wibawa, dijawabpun bingung harus jawab apa atau lebih tepatnya mau jawab darimana. maka akupun diam cukup lama. sambil bingung sambil mikir.
karena gak enak dipandangi terus, "jujur deh. mas gak paham apa maksud adik. ini maksudnya gimana? terus apa hubungannya dengan kertas manila?"
Awalnya kukira dia sebel dengan jawabanku, ehh.. ternyata dia malam tersenyum lalu tertawa kecil. "mas lucu bangett.. kalo bingung kan bisa ngomong dari tadi."
asem! malu makk!
"Mas rumah tangga kan juga termasuk dari organisasi, setuju gak?"
"Hmm.. setuju. terus"
"Apa yang kita lakukan ketika kita akan membentuk sebuah organisasi?" tanyanya.
"Membentuk pondasi dasarnya" jawabku ngasal. maklum bukan termasuk organisatoris.
"Iya.. maksud dari pondasi dasar itu apa?" tanyanya lagi.
"Yaa.. yang menjadi dasar terbentuknya organisasi tersebut." dalihku.
Dia tertawa kecil lagi. "ihh... mas lucu banget sih. bilang aja kalo gak tau. malah muter-muter sok keren gitu." ia memberanikan diri nyubit lenganku, walau canggungnya masyaallah.
hahahaha.. :D
Wahai sodara-sodara pesan saya carilah suami/istri yang soleh/a karena ia adalah syurga sebelum syurga yang sesungguhnya.
"Pondasi yang dimaksud itu AD (anggaran dasar) dan ART (anggaran rumah tangga) mas.."
"Owhh.. itu tho.." aku mangangguk-angguk. biarin dikatain sok keren, emang udah keren dari sononya. haha..
Jadilah malam itu kami mengadakan rapat luar biasa ampe page.. mulai dari visi, misi, tujuan, motto, AD, ART, renop, renstra, dan bla bla bla aku lupa apa lagi itu nama itemnya dibahas. beneran kayak rapat orang kantoran. aku sebagai presiden direkturnya merangkap peserta, dia jadi sekretaris sekaligus perserta juga, sedangkan hakim yang mengetok palu adalah kami juga.
Kertas manila besar yang tadinya kosong kini telah tercorat-coret oleh garis-garis yang membelah dan membagi-bagi bidang putih itu menjadi tabel, kolom, akar, pohon, serta ranting waktu dari skala yang terbesar sampai yang terkecil, disisinya dituliskan target-target sebagai refleksi dari visi, misi dan tujuan.
Kertas manila besar yang tadinya kosong kini telah tercorat-coret oleh garis-garis yang membelah dan membagi-bagi bidang putih itu menjadi tabel, kolom, akar, pohon, serta ranting waktu dari skala yang terbesar sampai yang terkecil, disisinya dituliskan target-target sebagai refleksi dari visi, misi dan tujuan.
"Ini adalah petanya. dan sekarang adalah petualangannya" kataku sambil menerawang kertas manila. dia hanya tersenyum lalu merebahkan diri di pangkuanku. ciee... mungkin itu maksudnya "iya betul".
_jogja_

2 komentar:
Ahahahahaha ...
Gue ngakak..
Aseeeeeeem, tulisan lo tuh bisa bikin galo buat orang-orang yang masih lajang tauuuu! -____-"
hehee.. bersabarlah wahai para bujangan!!
Posting Komentar