bukanlah pengalaman yang menyenangkan melihat kawan sendiri berjalan menuju kehancuran. namun kali itu begitulah yang aku saksikan. seorang pemuda nan cemerlang harus menghadapi kehancurannya ditengah-tengah ia sedang tumbuh berkembang. apa yang menyebabkan ia hancur. masalahnya sederhana, ketidaksepakatan antara dia dan ayahnya.
kasus ini adalah kasus pertama yang menjadi perhatianku secara khusus. aku meluangkan banyak waktu untuk mengamatinya. menarik beberapa kesimpulan atas beberapa kejadian sehingga paling tidak aku bisa membantu kawanku itu. namun masalah yang sepertinya sederhana menjadi kian rumit manakala diantara keduanya tidak kutemukan ujung yang ingin dicapai.
aku berusaha menjadi penengah. memahami dari sudut sang anak dan juga sang bapak. dan justru posisiku itu membuatku bingung. sang anak memiliki nilai kebenarannya sendiri, begitu juga sang bapak. sampai pada akhirnya kebenaran masing-masing tidak pernah bertemu dan saling bertentangan satu sama lain, mm.. sebenarnya tidak bertentangan secara frontal hanya pada beberapa bagian saja, dan masih ada kemungkinan untuk diperbaiki.
keretakan hubungan antara anak dan orangtua, sudah banyak aku jumpai. biasanya terjadi ketika anak sudah memasuki masa-masa penggodokan nalar, sehingga ia mengalami banyak guncangan dan titik kejut. dan parahnya banyak orangtua yang tidak mengerti dan mau mengerti akan hal itu. mereka tetap pada jalan otoriter. mendidik anak dengan cara doktrin dan dogma tanpa memberi kesempatan anak untuk berbicara. dari sini mulailah konflik yang pada akhirnya berbuah kerugian jika kedua pihak tidak saling memperbaiki.
maka sudah kewajiban menjadi orang tua harus siap segala hal, terutama pemahaman yang mendasar tentang pendidikan generasi selanjutnya yang amat penting. jika tidak maka anak-anak dengan nasib seperti kawanku itu akan semakin banyak.

0 komentar:
Posting Komentar